Prof. Khoo Kay Kim said...

"The university today does not teach people how to think. The students come to university to make money. I always said to my students if you want to be rich don't come to university. The rich Chinese are mostly uneducated. To be rich you are not obliged to be highly educated. You can just pick one spot in KL and start selling Nasi Lemak and trust me your earning will be higher than university's Professor. People come to university in order to be a complete human being, not about making money. When I correct SPM history papers most of the time I will be correcting my own answer schemes. Our education system does not produce human but robots."- Prof Khoo Kay Kim
Memaparkan catatan dengan label ikhwanul muslimin. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ikhwanul muslimin. Papar semua catatan

Sabtu, Oktober 30, 2010

Antara Kemenangan Aqidah dan Kekalahan Sikap Mengekor




Risalah dari Prof. DR. Mohammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 08-10-2010

Segala puji bagi Allah, dan Salawat dan salam atas Rasulullah, saw, Nabi yang ummi dan Al-Amin, dan orang yang mengikutinya dan berjalan di jalan petunjuknya hingga hari kiamat, selanjutnya…

Telah berlalu 37 tahun, hadir kepada kita peringatan kemenangan 6 oktober bertepatan dengan 10 Ramadhan, melekat dalam ingatan setiap warga Mesir, Arab dan Muslim bahkan setiap Insan, akan gambaran sebuah pengorbanan, membaur di dalamnya kemenangan dengan karakteristiknya, bercampur di dalamnya darah sang mujahid dengan aqidahnya dan haknya untuk hidup di negerinya sendiri, lalu naik dalam lingkup jiwa-jiwa yang beriman dengan seruan yang fenomenal: “Allahu Akbar” ..

Yang mampu membuat perhatian siapa saja yang ada disekelilingnya, menolak akan kehinaan dihadapan tentara paling buruk dan jahat di dunia, yang berada dalam kesatuan geng kejahatan di penjuru dunia

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (Al-Maidah:82)

“Allahu Akbar” .. Seruan yang menyatakan bahwa umat Islam mampu menaklukkan kejahatan tirani, dengan syarat menata kembali aqidah perang dihadapan Allah; sehingga dapat menghilangkan setiap keputus asaan atau menyebarnya jiwa kalah

وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (An-Nisa:104)

“Allahu Akbar” ..

Dengan penuh keyakinan bahwa senjata tidak akan mampu mewujudkan kemenangan selama pasukan perlawanan beriman dengan kebenaran orientasi dan hakikat loyalitas, keseimbangan perkara dan pintu-pintu sejarah terbuka bagi salafussalih, sehingga mereka mampu menaklukkan negeri-negeri di pelosok dunia, Allah memberikan kejayaan kepada mereka, padahal jumlah mereka tidak banyak dan perbekalan amunisi mereka tidak memadai.. namun mereka adalah orang-orang yang beriman dan para mujahid (pejuang).. meskipun mereka adalah manusia yang pasti merasakan apa yang dirasakan oleh manusia lainnya..

وَإِذْ زَاغَتِ الأبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا

“Dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka”. (Al-Ahzab:10)

Namun janji Allah adalah benar

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا . وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا . وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا .

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang Keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh Keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. dan adalah Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang ahli kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu”. (Al-Ahzab:25-27)

“Allahu Akbar” .. Menjadikan harapan rakyat Mesir untuk mengembalikan kejayaan yang lalu “pada saat hari itu penuh dengan teriakan ” Allahu Akbar ” sebagai syiar kehidupan, menelusuk pendengaran manusia saat itu, dan mulut saat terus aktif menyenandungkan Al-Quran, dan dengan seruan Allah Akbar bersinar cahaya hidayah di setiap sudut dan tempat; menyebar cahaya hidup di seluruh jagad alam, menebar kedamaian dunia, dan manusia merasakan manisnya kebahagiaan bersama pemerintahan yang berkeadilan, ketentraman rakyat, berserah diri pada hidayah yang memberikan keselamatan

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“ (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (Ibrahim:1)

Kekalahan yang nyata

Setelah tiga puluh tujuh tahun kemenangan, muncul pertanyaan: Apa yang tersisa dari kemenangan Oktober?!

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus terus terang memberikan kenyataan di semua tingkatan (Keamanan – Politik – Ekonomi – Sosial – kedaulatan) dan setelah itu baru kita menilai apa yang tersisa dari kemenangan, yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan membebaskan tanah air dan kehendak, mewujudkan keadilan dan kedaulatan, menolak segala bentuk normalisasi (perdamaian) dengan musuh dan antek-anteknya yang dengan rela membentangkan tangan kepada musuh sehingga tangan mereka berlumuran darah anak bangsa, termasuk anggota kami yang tidak bersalah dari warga Bahrul Baqar, korban kekejaman di Sabra dan Shatila, Deir Yassin, Bahrul Baqar, Qana, Lebanon Selatan dan Gaza.

Adalah hak Mesir dan warga Mesir terhadap para penguasa di dalamnya menuntut agar darah para syuhada Oktober tidak pergi sia-sia, jangan sampai terjadi pengkhianatan terhadap pengorbanan mereka terhadap negeri dan keluarganya, dan selanjutnya:

- Adalah hak para syuhada Oktober mendapatkan kedaulatan mereka di atas tanah yang telah mengalirkan darah dan jalan mereka secara penuh dan lengkap.

- Adalah hak para syuhada Oktober untuk diakui ruh-ruh mereka dengan memuliakan kehidupan keluarga dan keturunan mereka, tanpa melakukan tindak kerusakan dan kejahatan yang dapat menghisap harta dan kekayaan mereka atau melakukan pengebirian dengan merampas kebebasan yang telah diamanahkan oleh darah para syuhada mereka.

- Adalah hak para syuhada Oktober mendapatkan perlindungan harga diri mereka, tetap dimuliakan setinggi-tingginya tanpa menundukkan bendera pembangkangan ditengah komunitas mereka atau menjadi terganggu dan menyerah sebagai alternatif terhadap perlawanan dan penebusan.

Bahwa Ikhwanul Muslim bersatu dengan Mesir, dunia Islam dan Arab dalam mengenang peringantan kemenangan enam Oktober dengan menegaskan beberapa hal berikut:

Pertama:

Tidak adanya Nasionalisasi kemenangan

Untuk mengubah kemenangan rakyat sekedar peringatan dengan cara melakukan perayaan-perayaan, pidato yang memukau, dan merubah perayaan dengan nilai-nilai keimanan dan aqidah menjadi sekedar lantunan musik dan kata-kata manis belaka, mengganti gerakan menuju langgengnya kemenangan pada terabaikannya unsur-unsur kemenangan, pemurnian pada nasionalisasi kemenangan dan menghargai darah para syuhada dalam bentuk kezhaliman dan tirani, dan oleh karena itu dibutuhkan adanya langkah-langkah nyata dari pemerintah Mesir terhadap rakyatnya untuk menghidupkan kembali kehendak kemenangan yang bergelora pada Oktober dan telah bersekongkol setelahnya untuk memadamkan dan menghancurkan hingga keakar-akarnya; rakyat Mesir adalah pasukan terbaik yang ada di muka bumi seperti yang pernah disampaikan berita gembira ini; penjaga keamanan yang tandanya adalah Mesir..

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى يُوسُفَ آوَى إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

“Dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam Keadaan aman”. (Yusuf:99)

Dan kekayaan harta karun Mesir yang tidak akan habis, karena itu, apa yang kita khawatirkan untuk berhadapan dengan umat menuju kemenangan di semua bidang kecuali dengan bekerja keras di bawah pemimpin yang Adil, penguasa yang merakyat dan pemerintah yang bersih.

Kedua:

Tidak melupakan musuh

Bahwa kemenangan Oktober adalah melawan musuh yang jelas dan nyata: Zionis, dan didukung oleh Amerika, barangsiapa yang mengatakan bahwa perang enam oktober adalah perang terakhir adalah salah, karena doktrin dari anak-anak keturunan zionis memiliki target kepada setiap orang yang ada disekeliling mereka dengan bentuk yang telah diungkap oleh Allah akan niat mereka dalam Al-Qur’an

كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”. (Al-Maidah:64)

Dan selanjutnya bahwa sekedar berjalan mengekor, memberikan penyerahan diri seperti yang mereka namakan dengan perdamaian, yang merupakan –demi Tuhan- inti dari pengabaian terhadap darah para syuhada oktober, dengan bermuwalah (menjalin loyalitas) kepada musuh, dan dengan senjatanya yang menjadi alat untuk merampas, menduduki dan membunuh dengan kejam, dan apa yang terjadi pada perpecahan, cerai berai, fitnah, dan pengkotakan kecuali hasil alami dari berkoalisi dengan musuh..

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“ Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (Al-Anfal:73)

Hal yang sama berlaku untuk penafsiran kondisi negara yang rusak yang sedang dialami di beberapa negeri kita dalam bentuk politik, ekonomi dan sosial, karena itu merupakan pakaian penghinaan yang tidak mampu menutup aurat kecuali sebagai alternatif secara alami terhadap mulianya kemenangan yang kita abaikan di dalamnya setelah digapai melalui teriakan “Allahu Akbar” ..

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“ (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (An-Nisa:139)

Ketiga:

Perang adalah doktrin mereka

Bukankah Amerika adalah Negara yang paling banyak jumlah perangnya hingga mencapai 235 perang eksternal, dilancarkan atas Negara-negara yang ada di seluruh dunia sejak deklarasi kemerdekaannya, di samping itu terjadi perang internal di berbagai Negara bagian dari Amerika Serikat itu sendiri, dan memiliki berbagai sebab dan pembenaran untuk melakukan perang guna mencapai tujuan dan kepentingan yang selalu diperbaharui?

Sementara itu Amerika juga telah melegitimasi pendudukannya atas Irak dan sebelumnya Afghanistan dengan dalih memerangi terorisme; dan sebelumnya mereka juga menaikkan bendera untuk berperang terhadap “komunisme” untuk melawan di bawahnya revolusi liberal di Dunia ketiga, untuk menggulingkan pemerintah Mossadeq di Iran pada tahun 1953 oleh Central Intelligence Agency (CIA), dan campur tangan pasukan AS pada tahun 1958 atas Lebanon, dan menyulut api perang antara dua bagian dari Korea pada 1950, bahkan parlemen Amerika menerima proposal untuk menjatuhkan bom atom di Korea Utara secara beruntun, dan akhirnya intervensi langsung Amerika dalam perang Korea, intervensi langsung Amerika menjadi kesempatan untuk menghancurkan perusahaan industri, kota dan desa-desa di Korea, dan menewaskan ratusan ribu warga. Dan ini juga yang terjadi di Vietnam, Nikaragua, Somalia dan negara-negara lain di belahan dunia.

Negara Amerika adalah negara yang berideologi negara perang dan piaraannya adalah zionis; yang tidaklah mereka melakukan kejahatan kecuali menguasai kantong-kantong kekayaan Negara secara penuh .. kejahatan yang dikutuk oleh dunia namun didiamkan oleh lidah-lidah pemerintah di dalamnya, rekayasa seluruh Lembaga yang ada di PBB dengan menutupi pencurian terhadap Palestina, membisu atas hilangnya warisan kemanusiaan berupa penggalian terowongan di bawah Masjid Aqsha dan yahudisasi Al-Quds dan rangkaian kejahatan lainnya yang tidak berujung; pembunuhan, penghancuran, penjarahan, penyiksaan dan pemenjaraan rakyat Palestina, namun, sekalipun rangkaian kejahatan yang dilakukan oleh zionis secara sistemik dan secara terus menerus dunia masih saja membicarakan tentang perdamaiana dan eksistensi zionis di dunia!

Keempat:

Medan perang kian meluas

Perang belumlah berakhir, namun medannya tambah meluas dan misinya telah melebar lebih dari sekedar batas territorial; menelan bangsa, negeri dan peradaban, mengecat wajah dunia; Afghanistan jatuh pada cengkeraman pendudukan, kemudian diikuti oleh pendudukan Irak dalam bentuk yang keji yang diketahui oleh dunia disepanjang sejarahnya.

Sanksi-sanksi lain akan segera jatuh pada Suriah dan Iran, sementara target fitnahpun sedang diarahkan ke Somalia, Sudan, Yaman, Pakistan, Lebanon, dan melempar ketubuh umat yang satu dalam bentuk perpecahan agama, mazhab, sektarian dan etnis, dan merubah negara yang memiliki satu bahasa dan satu agama menjadi berpecah belah dan bermusuhan; saling melempar kritik dan fitnah, dan berjuang menjaga perbatasan dengan alasan pendudukan; sehingga memberikan pengetahuan kepada kita bahwa senjata adalah solusi di antara kita setelah sebelumnya memiliki motto “saling berbelas kasihan di antara mereka.”

Bahkan ideologipun menjadi target nilai-nilai globalisasi dan seni-seninya; untuk mendominasi sisi kehidupan kita, terbiasa dengan budaya asing di tengah kita, kreativitas yang mengalahkan naluri, dan membangun karakter yang terdistorsi tidak percaya akan nilai-nilai (akhlak) dan tidak berusaha membela ideology (Islam).

Mereka adalah musuh ..

وَإِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لا يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلا وَلا ذِمَّةً

“Jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian.

Berbicara tentang perdamaian dan hak asasi manusia

يُرْضُونَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَى قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ

“Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang Fasik (tidak menepati perjanjian)”. (At-Taubah:8)

Mereka adalah musuh ..

Mempersiapkan rencana dan bergerak membalik realita yang benar menjadi batil dan yang kongkrit menjadi rabun bak fatamorgana dan menamakan kejahatan dan agresi sebagai perang suci..

إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ .لا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلا وَلا ذِمَّةً وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ

“Sesungguhnya Amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) Kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. dan mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas”. (At-Taubah:10)

Akhirnya ..

Kita mengenang kemenangan Oktober, dan kita menegaskan bahwa faktor-faktor kemenangan dan kekuatan dalam tubuh umat kita adalah telah lenyap, potensi dan energinya telah cacat, anggota badannya terikat, dan pikiran jernihnya telah lenyap, aturan yang tidak adil dan hukum darurat serta pemerintah yang rusak, keinginan yang terampas, karena itu para penguasa hendaknya memahami tabiat dari suatu fase dan hakikat tanggung jawab yang diamanahkan dipundak mereka berdasarkan apa yang diinginkan oleh rakyat mereka, dan itulah yang akan Allah berikan balasan atasnya menanyakan tanggung jawab atas kepemimpinan mereka.

Kepada seluruh ikhwanul Muslimin…

Jadikanlah kemenangan oktober sebagai titik harapan kalian terhadap amanah yang kalian emban terhadap setiap jiwa manusia yang kehausan; cita-cita menjadi target, kekalahan yang nyata telah melupakan manusia akan kemampuan mereka untuk menang.

Jadikanlah syiar kalian:

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf:87)

Dan jadikanlah dari sikap positif –sekalipun hanya menghilangkan duri dari jalan- sebagai contoh nyata akan kemampuan untuk melakukan perbaikan dan perubahan yang bersandarkan pada perbaikan jiwa

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. “ (Ar-Ra’ad:11)

Dan kembalikanlah nilai-nilai kemenangannya, dan para syuhada akan kemuliannya; dengan mengekspos dan menjelaskan setiap usaha dalam rangka menjual potensi umat di pasar-pasar murah, membuka wajah musuh yang sebenarnya dan konspirasi mereka, dengan kayakinan penuh tanpa ada keraguan bahwa janji Allah adalah benar

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. (Al-Qashash:5)

Allah berada di balik maksud ini semua, dan Dialah yang memberi jalan lurus

Selasa, Oktober 26, 2010

Pandangan Imam As-syahid Hassan Al Banna mengenai perkara khilafiah dan penghormatan terhadap ulama

Al Banna menukilkan beberapa kisah berkenaan perkara ini dalam bukunya yang terjemahannya diberi tajuk Detik-detik Hidupku- Hassan Al Banna. Saya suka berkongsi berkenaan perkara ini disebabkan saya melihatkan kecenderungan sesetengah pihak yang gemar membidaahkan orang, mewahabikan , menyesatkan manusia lain, mengeluarkan mereka daripada Ahlussunnah wal jamaah dan sebagainya. Amat malang perbezaan ini buka sahaja berlaku di kalangan alim ulama dalam jiwa yang lapang dan penuh mahabbah tetapi dilontarkan persoalah khlafiah ini ke tengah-tengah masyarakat umum yang kebanyakannya tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang sudut-sudut terpencil dalam agama.


Satu malam, saya merasakan ada satu perkara anih berlaku. Saya dapati para pendengar berada di dalam keadaan kelam kabut. Mereka telah berpecah kepadabeberapa kumpulan berlainan. Sebaik saja saya mula berceramah, satu soalan telah dikemukakan oleh salah seorang pendengar.

Dia menyoal, ‘Apakah pendapat tuanmengenai at-tawasul?’ Saya menjawab, ‘Saya agak bukan perkara ini saja yang awak ingin tahu. Awak akan bertanya begitu dalam sembahyang dan salam selepas azan. Awak akan bertanya sama ada surah Al-Kahfi dibenarkan dibaca pada hari Jumaat
atau tidak. Awak juga akan bertanya sama ada perkataan ‘Saidina’ patut disatukan dengan nama Rasulullah s.a.w. atau tidak. Awak akan bertanya di manakah ibu bapa Rasulullah s.a.w. ditempatkan selepas mereka mati dan dimanakah mereka berada sekarang. Awak akan bertanya sama ada pahala membaca Al-Quran sampai kepada orang mati atau tidak. Awak akan bertanya sama ada perhimpunan ahli-ahli sufi dan ahli-ahli Syariah merupakan satu dosa atau satu jalan menuju Allah.’


Kata-kata saya itu merangkumi semua persoalan-persoalan yang telah memecah-belahkan mereka selama ini. Orang yang bertanya terpegun mendengar kata-kata saya itu. Dia berkata, ‘Ya, saya tahu jawapan kepada semua persoalan itu.’ Saya menjawab, ‘Saudaraku, saya bukanlah seorang ulamak. saya hanya seorang guru. Saya telah mempelajari beberapa ayat Al-Quran dan juga hadith.. Saya juga mengkaji beberapa tajuk yang menyentuh Islam dan mengetahui sedikit
sebanyak mengenai Syariat Islam.


Saya menjalankan dakwah Islamiah secara sukarela. Apabila kamu keluar (meninggalkan) dari perbincangan ini, sesungguhnya kamu telah melukakan saya. Silalah memberi perhatian andainya awak suka mendengar ceramah saya dan menganggapnya berfaedah. Jika awak ingin mengetahui lebih banyak, awak bebas berjumpa para ulamak lain.

Awak akan mendapat jawapan kepada soalan-soalan tadi dari para ulamak yang mampu menolong awak. Saya telah menyampaikan segala yang saya tahu kepada awak. Awak memberi tanggungjawab kepada seseorang menurut kemampuannya.’ Orang yang menyoal saya tadi kagum dengan kata-kata saya itu.


Sepatah perkataan pun tidak keluar dari mulutnya. Dengancara ini, saya telah berupaya mengelak kekecohan dari berlaku. Kebanyakan para hadirin berpuas hati dengan penjelasan saya. Tanpa melepaskan peluang, saya pun berkata kepada mereka“Saudara-saudara ku yang dikasihi. Saya sedar penyoal tadi dan kebanyakan awak semua ingin tahu saya menyebelahi aliran yang mana satu. Awak semua ingin tahu sama ada saya menyebelahi aliran Syeikh Moosa atau aliran Syeikh Abdus-Sami.


Pertanyaan begini tidak mendatangkan apa-apa keuntungan. Awak semua telah mensia-siakan lapan tahun di dalam pertikaian dan politik kepartian. Sekarang awak semua perlu berhenti dari kegiatan tersebut. Orang-orang Islam berbeza pendapat di dalam perkara-perkara tadi selama berabad abad dan perbezaan-perbezaan itu masih berterusan. Allah suka kita semua berkasih sayang dan bersatu. Allah tidak suka semua bertikai dan berselisih. Saya berharap awak semua sekarang sanggup berjanji kepada Allah untuk menjauhkan diri dari perbincangan-perbincangan yang merosakkan.


Berusahalah mempelajari dasar-dasar Islam. Kemudian ikutilah dasardasar itu dengan cara yang sebenar benarnya. Ambillah dasar-dasar Islam dan laksanakanlah. Tinggalkanlah amalan-amalan yang bertentangan dengan Islam dan ikutilah kitab suci Al-Quran dan sunnah Rasulullah s.a.w. agar hati awak semua menjadi terang dan jernih. Tujuan kita yang sepatutnya ialah mengikuti dasar-dasar Islam.



Kita tidak menekankan kepada sesuatu aliran pemikiran tertentu.” “Kita akan berupaya menyuarakan pendapat-pendapat kita di dalam suasana yang penuh keyakinan dan persefahaman jika terpupuk sifat kasih sayang dan amanah di kalangan kita. Saya yakin awak semua akan menerima dan berpegang dengannasihat saya ini.”


Rayuan saya ini sangat berkesan. Kami bersurai setelah berikrar untuk bekerjasama antara satu sama lain di dalam usaha menyebarkan Islam dan di dalam usaha menjauhi perkara perkara khilafiah. Setiap orang bebas berpegang dengan pendapat masing-masing schinggalah Allah yang Maha Besar sendiri memberi keputusan muktamad. Selepas perbincangan tersebut, kami pun meneruskan usaha dakwah Islamiah dengan aman. Kini saya menekankan perkara-perkara yang berkaitan dengan persaudaraan dan kerjasama di kalangan orang-orang beriman. Saya berusaha memupuk ciri-ciri persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiah) di kalangan mereka.


Kadang kala saya menyentuh perkara perkara khilafiah yang tidak menjadi punca perbalahan di kalangan mereka. Saya bertindak begitu untuk menunjukkan kepada mereka cara orang-orang bertakwa di zaman dahulu bertolak ansur di antara satu sama lain walau pun mereka berbeza pendapat.



Satu contoh
Teringat saya kepada satu peristiwa yang berkaitan dengan masalah khilafiah. Masalah itu saya bentangkan kepada para hadirin. Saya bertanya mereka, ‘Siapakah di antara kamu ini bermazhab Hanafi?’ Seorang lelaki pun bangun dan mendekati saya.


Kemudian saya bertanya lagi, ‘Siapakah di antara kamu ini bermazhab Syafi’e?’ Bangun lagi seorang lelaki dan mendekati saya setelah mendengar soalan itu. Kemudian saya memberitahu para hadirin bahawa kedua orang lelaki tadi akan bersolah dengan berimamkan saya sendiri. Kemudian saya menyoal lelaki Hanafi tadi, ‘Wahai Hanafi, apakah amalan awak mengenai pembacaan surah Al- Fatihah?’


Lelaki Hanafi itu menjawab, ‘Saya berdiam diri dan tidak membaca Al-Fatihah’. Seterusnya saya bertanya lelaki Syafi’e pula, ‘Wahai Syafi’e, apa pula yang kamu buat?’ Jawabnya, ‘Saya membacanya.’ Seterusnya saya bertanya, ‘Apakah pendapat awak mengenai solah yang dilakukan oleh saudara yang bermazhab Hanafi itu?’ Dia menjawab, ‘Solahnya tidak sah kerana dia tidak membaca Fatihah bersama Imam. Membaca Fatihah ialah salah satu rukun solah.’


Kemudian saya menyoal lelaki Hanafi pula, ‘Apakah pendapat awak mengenai saudara awak yang bermazhab Syafi’e tadi?’ Dia menjawab, ‘Dia telah melakukan satu perkara yang Makrooh-i-Tahrim. Membaca Fatihah bersama Imam adalah perbuatan Makrooh-i-Tahrim’. Seterusnya saya bertanya mereka berdua, ‘Sanggupkah awak memusnahkan akidah masing-masing lantaran perbezaan taddi?’ Kedua mereka menjawab serentak, ‘Sudah tentu tidak’. Kemudian saya bertanya para hadirin,‘Adakah awak semua akan menegur (mengkritik) mereka?’ Mereka menjawab, Tidak’.



Saya menyambung, ‘Puji-pujian bagi Allah. Awak semua kini boleh berdiam diri di dalam persoalan penting mengenai sah atau tidak sahnya solah seseorang. Tetapi awak tidak boleh bertolak ansur apabila seseorang ahli solah mengucap Allahumma Salli A’la Muhammadin atau Allahumma Salli A’1a Sayyidina Muhammadin. Perkara kecil ini awak jadikan punca pertikaian sehingga menyebabkan kekecohan besar.’


Cara saya berdakwah ini terbukti berkesan. Orang ramai mula memperbaiki sikap mereka terhadap satu sama lain. Mereka telah sedar bahawa Islam itu mudah dan luas. Dalam Islam, seseorang tidak boleh mengongkong seseorang lain. Pusat penumpuan di dalam Islam ialah Allah dan Rasul-Nya. Kemudian para anggota Ummah dan para pemimpinnya pula menjadi tumpuan.


SIKAP IMAM TERHADAP ULAMA YANG BERBEZA PENDAPAT

Saya mengambil sikap menghormati para ulamak di situ dan mengelak diri saya dari bertelingkah dengan mereka ketika saya menyampaikan ceramah atau syarahan. Jika seseorang ulamak muncul ketika saya menyampaikan ceramah, saya akan berundur diri dan memperkenalkannya kepada para hadirin. Sikap saya ini membawa kesan yang baik kepada para ulamak tersebut sehingga mereka selalu memuji saya.



Teringat saya kepada satu peristiwa yang berkaitan dengan perkara ini. Ada
seorang Syeikh Al-Azhar (yang bernama Syeikh Abdus Salaam) yang telah menghabiskan banyak tahun di dalam sistem pengajian Al-Azhar yang lama. Dia gemar berbincang dan selalu memberi masalah kepada para penceramah dengan menimbulkan persoalan-persoalan luar biasa.



Dia gemar berbincang tajuk-tajuk dan huraian-huraian yang diambil dari bahan-bahan rujukan lama. Satu hari dia cuba melibatkan saya di dalam perbincangannya itu. Ketika itu saya sedang menceritakan kisah Nabi Ibrahim a.s. kepada para hadirin. Dia bertanya kepada saya nama bapa Nabi Ibrahim a.s. Saya senyum dan menjawab, “Maulana Syeikh Abdus Salaam.


Adalah dipercayai nama bapanya ialah Tarikh dan nama bapa saudaranya ialah Azar. Tetapi di dalam Al-Quran, nama bapa Nabi Ibrahim disebut Azar. Tidak salah jika Azar dianggap bapa saudaranya kerana di dalam kamus Arab, bapa saudara kerap kali dianggap bapa. Setengah pentafsir berpendapat bahawa Azar adalah nama berhala.



Yakni Azar bukanlah nama bapanya atau bapa saudaranya. Huraian ayat Al-Quran: (s. An-An’aam .74)
Maksudnya:

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapanya Azar. Mengapakah engkau mengambil berhala-hala sebagai tuhan-tuhan?”


Yang di mana ayat ini boleh membawa erti ‘Dan ingatlah ketika Ibrahim



berkata kepada bapanya tinggalkan Azar. Mengapakah engkau mengambil berhala berhala sebagai tuhan-tuhan?”. Syeikh itu tidak ingin perkara itu berakhir begitu saja. Dia berkata, ‘Nama bapa Nabi Ibrahim ialah Tarukh, tetapi awak menyebut Tarikh.’ Saya membalas, ‘Namanya mungkin juga Tarukh. Walau bagaimanapun, nama itu bukanlah nama Arab. Sebutan nama yang betul tertakluk kepada sejauh mana kita mengetahui bahasa itu. Apa yang penting ceramah ini bertujuan memberikan nasibat dan gambaran.’



Syeikh itu terus mengganggu saya dengan cara itu setiap kali saya memberi ceramah. Tujuannya ialah hendak menyuraikan para hadirin dengan tajuk-tajuk perbincangan yang beku agar medan dakwah terletak di tangan para ulamak saja. Saya pun menyusun satu rancangan untuk menyekat kegiatan Syeikh itu. Saya menjemput



dia ke rumah dan mengalu-alukan kedatangannya. Saya menghadiahkan dua buah buku mengenai ilmu Fiqh dan ilmu Tasawwuf. Saya memberitahunya saya sedia menghadiahkan sebarang buku yang dia suka. Dia sangat gembira mendengar katakata saya itu. Semenjak itu dia menghadiri majlis ceramah saya dan mendengar dengan penuh perhatian. Di samping itu, dia juga menasihati orang ramai supaya datang mendengar ceramah saya. Betapa indahnya sabda baginda Rasulullah s.a.w.
yang bermaksud:
“Hendaklah kamu bertukar-tukar hadiah antara satu sama lain kerana hal ini
akan mewujudkan kasih sayang di antara kamu.
”

Inilah buah fikiran yang tercetus dari seorang ulama yang ikhlas ini . Amat malang apabila saya melihat ramai daripada kita yang "anak-anak" ini begitu mudah melontarkan kenyataan "enta sesat , enta wahabi, mereka bukan ASWJ dan sebagainya sehingga perkara ini menjadi perkara yang begitu enak dilafazkan walaupun perbezaan itu hanya berdasarkan perbezaan berbentuk cabang sahaja, bukan pokok.

Isnin, Oktober 25, 2010

Syari’at Islam Memberi Kesejahteraan kepada Semua Manusia

Risalah dari Dr Muhammad Badie’, Mursyid Am Ikhwan Muslimin, 18-06-2010

Islam adalah agama dan negara

Segala puji bagi Allah, dan selawat dan salam ke atas Rasulullah saw, keluarganya dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikutinya, adapun selanjutnya ..

Sesungguhnya telah diakui menurut psikologi orang-orang yang berakal tentang kewajipan hidup dalam kelompok (jamaah) yang memiliki kekuatan, sistem, dan undang-undang yang dapat mengelakkan perbuatan zalim-menzalimi sesama mereka, menghentikan sebarang perselisihan dan persengketaan sesama mereka.

Bentuk kelompok ini terus berkembang hingga membentuk sebuah negara dan diterima oleh umat manusia sepanjang zaman untuk menyumbangkan kekuatan mereka pada kekuatan negara, memperuntukkan tenaga mereka untuk memperkuat sistem dan kelompok, serta meninggikan kewibawaan dan pengaruhnya, di mana kebenaran dibebaskan daripada penindasan, menyelamatkan ramai orang dari berbagai kezaliman, menghalang para perosak dari melakukan kerosakan sehingga tercapai maqashid syar’iyyah (tujuan syariah) dan mewujudkan keadilan dan ketenteraman. Ini kerana jika hal itu tidak berlaku, maka pastilah kehidupan mereka akan terabai tanpa haluan bahkan akan lenyap.

Ada satu ungkapan:
Tidaklah suatu masyarakat akan baik jika terdapat di dalamnya pergaduhan yang tidak mampu ditutupi dan hal tersebut tidak akan mampu ditutupi jika orang-orang jahil yang menjadi pemimpin mereka

Oleh sebab itu Islam yang suci datang dan menyeru umat untuk memilih seorang pemimpin yang mampu membawa kemaslahatan, mengatur segala urusan mereka menuju yang terbaik dan mulia, sehingga urusan hidup mereka diatur dengan adil, keadaan mereka diasuh di atas asas disiplin, kehidupan mereka dipelihara daripada kecelaruan dan kebingungan, dan memantapkan hidup mereka di bawah payung keamanan dan kemuliaan insan, serta mengajak semua umat untuk menghormati sistem ini.

Bahkan Saidina Ali r.a pernah berkata:
“Raja dan agama merupakan dua saudara, tidak boleh dipisahkan antara satu dengan lainnya, kerana agama adalah asasnya sementara raja adalah pengawalnya, jika tidak memiliki asas maka agama akan hancur, dan jika tidak mempunyai pengawal maka agama akan mudah lenyap”
Untuk mencapai tujuan tersebut, Allah SWT meletakkan dasar-dasar keadilan dan prinsip-prinsip hukum yang baik, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (An-Nahl:89)

Allah telah mengilhamkan melalui lisan Nabi Muhammad saw untuk menghuraikan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an serta memberikan mandat kepada nabi untuk mempamerkan gambaran praktikal dan amali terhadap hukum yang baik ini. Dengan itu ajaran Islam yang suci terlaksana secara teori dan praktikal dalam bentuk yang paling baik dalam menentukan hak-hak manusia, melindungi kebebasan dan menjamin kemuliaan hidup bagi semua manusia. Justeru lengkaplah ajaran Islam dan sempurna kurniaan Allah, sebagaimana firman Allah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu”. (Al-Maidah:3)

Syariat Islam melindungi bukan Islam

Di bawah naungan syariat Islam yang penuh toleransi sahaja bukan Islam seperti Yahudi dan Kristian bebas mengamalkan kepercayaan mereka dan menjalankan ajaran agama mereka. Allah berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan peraturan dan jalan yang terang”. (Al-Maidah:48)

Mereka juga diberikan pengecualian melaksanakan sebahagian syariat berupa kewajipan atau pengharaman yang tidak ditetapkan untuk mereka.

Di bawah naungan syariat ini sahaja yang mencegah pencemaran simbol agama atau penghinaan terhadap agama. Oleh sebab itu, tidak menghairankan bahawa gereja di Mesir menerapkan Syariah Islam bagi mengukuhkan hak orang-orang Kristian dalam menjalankan hukum agama mereka, seperti yang telah berlaku sejak penaklukan Islam hingga sekarang. Jelas bagi siapa yang mempunyai mata hati, bahawa berhukum dengan Syariah Islam adalah satu-satunya cara yang dapat mencapai kestabilan sosial, memelihara kepelbagaian agama dan memberikan hak masing-masing; dalam ruang lingkup yang jelas, yang melindungi kesatuan rakyat dan memelihara struktur sosial untuk anak bangsa dalam satu tanah air.

Syariat Islam melindungi kemuliaan manusia dan kebebasannya

Sesungguhnya undang-undang ciptaan manusia biarpun hukum-hukumnya baik tidak mungkin dapat memberikan peranan yang sama seperti syariat Islam terutama dalam memberikan keamanan, keadilan dan kebebasan. Ini kerana undang-undang ciptaan manusia tidak memiliki unsur kekudusan, nilai akhlak dan kerohanian seperti yang terdapat dalam Syariah Islam, yang senantiasa berinteraksi dengan hati nurani setiap orang dan pada masa yang sama memberikan arahan terhadap perilaku mereka.

Justeru, tidak terdapat dalam jiwa orang yang melanggar undang-undang ciptaan manusia perasaan takut kepada Allah, tidak merasa berdosa, tidak cemas dan tidak merasa kegusaran nurani seperti orang yang melanggar syariat Islam. Malah, boleh jadi orang yang pertama kali melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ciptaan manusia adalah orang yang membuat undang-undang itu sendiri, kerana dia mengetahui celah-celahnya, bahkan mungkin dia juga tahu cara mengelak dari menerima hukuman dan kembali melakukannya dalam bentuk dan taktik yang lain dengan penuh kelicikan!

Di dalam undang-undang ciptaan manusia seorang hakim lebih mudah berubah untuk menjadi penzalim, tanpa rasa malu atau berdosa, dan menjadikan undang-undang sebagai alat yang dapat digunakan untuk kemaslahatan dirinya dan mengubah sesuka hatinya.

Hal ini telah kami saksikan di Mesir, bagaimana undang-undang malah perlembagaan boleh diubahsuai menjadi ‘pedang’ yang digunakan dalam sistem yang zalim untuk dimanipulasi dan diadili sesuka hatinya walaupun berlawanan dengan kehendak rakyat, dan mengeksploitasi sokongan majoriti palsu untuk mengekalkan undang-undang yang mempunyai reputasi buruk, malahan cenderung kepada kerosakan dan melindungi perosak tanpa mempedulikan natijah yang menjurus kepada kerugian, menjatuhkan kewibawaan, nilai serta nama baik negara di hati setiap rakyat.

Kesan negatif akibat ketiadaan Syariat Islam dan kezaliman semakin bermahajalela

* Pada ketika ketiadaan syariat Islam dan kezaliman semakin bemaharajalela, kini kekuasaan mengatasi kebenaran, di mana badan perundangan berpihak kepada kehendak penguasa zalim sebagai ganti daripada menegakkan keadilan dan melaksanakan kepentingan rakyat. Anda tanyalah kepada Suruhanjaya Pilihanraya (SPR) apa yang terjadi dalam pemilihan anggota Dewan Parlimen di Mesir.

* Pada ketika ketiadaan syariat Islam dan kezaliman semakin bermaharajalela, kini tugas badan keselamatan memburu para penentang dan menangkap musuh-musuh penguasa zalim daripada bertindak terhadap para perosak dan memburu kumpulan penjenayah, disebut sebagai ‘tangan kerajaan’ yang merosak kemuliaan manusia dan kehidupan mereka serta merampas hak-hak mereka.

* Pada ketika ketiadaan syariat Islam dan kezaliman semakin bermaharajalela, kini semakin bertambah penindasan dan penangkapan ke atas orang-orang baik. Penjara-penjara di dalam negeri dipenuhi ramai orang yang memiliki kepakaran dan pengalaman dari segi ilmu, semata-mata kerana mereka lantang menyampaikan suara menentang kezaliman, kekejaman dan penipuan yang keji demi kehendak rakyat. Jawatan-jawatan diberikan kepada orang yang bukan ahlinya, dan memberikan kuasa pemerintahan kepada mereka yang memiliki pemikiran dan jiwa-jiwa yang hanya memikirkan kepentingan peribadi daripada kepentingan negara dan rakyat. Akhirnya- sesuai dengan keadaan tersebut – muncul sikap individualistik yang meranapkan pintu hubungan kemasyarakatan dan menghilangkan nilai-nilai keadilan di dalam diri rakyat.

Oleh kerana itu kezaliman berlaku dalam pelbagai lapangan hidup; ekonomi, sosial dan moral, telah melambat atau menghentikan sama sekali, bahkan melembabkan proses pembangunan, dan melenyapkan nilai-nilai patriotik, kedewasaan serta moral yang mulia; untuk diisi tempatnya dengan golongan opportunis dan menjadikan yang kuat dapat bertindak sewenang-wenang untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya dengan tangannya, sementara warga biasa dan sederhana terpaksa melakukan suapan untuk menyelesaikan beberapa hak-hak mereka, mencari jalan selamat daripada terus berhadapan dengan kekerasan dan ketidakadilan.

Kini telah hilang makna sebuah Negara yang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Semoga Allah SWT meredhai Saidina Ali bin Abi Talib, yang berkata dalam buku yang pertama kali ditulis setelah beliau dilantik menjadi khilafah:

“Adapun selepasnya. Sesungguhnya telah hancur orang-orang sebelum kalian, kerana mereka mencegah kebenaran hingga terpaksa membeli, dan mereka menyebarkan kezaliman hingga terpaksa ditebus”

Kita adalah kumpulan manusia yang berfikir dalam bentuk yang paling mudah, maka akan terlihat bagaimana kini telah lenyap hakikat sebuah negara setelah dikuasai oleh kuasa dan diambil oleh kekuatan badan keselamatan. Fokus yang menjadi cita-citanya dan dalam pengetahuan para pelakunya adalah; perhitungan jiwa manusia, orang-orang yang berkelayakan dan memiliki kepakaran terhalang dari memegang jawatan yang sesuai untuk mereka, mereka-reka tuduhan terhadap orang-orang yang jujur, melakukan tekanan, bertindak ganas dan menjatuhkan martabat mereka, dalam sebuah penyelewengan yang memalukan dalam penggunaan undang-undang, yang membawa kepada seburuk-buruk akibat.

Terdapat perbezaan besar antara sebuah negara yang dasar pemerintahannya adalah penjara, cemeti, penyiksaan dan pengadilan khusus, mengenepikan hak asasi dan menyuburkan kezaliman dengan… dengan negara yang diatur dengan hukum Syariat Islam yang mulia, sehingga seorang khalifah Umar Bin Al Khattab ra berkata setelah dipilih menjadi khalifah:
“Berikanlah kepada umat hak-hak mereka, janganlah kalian memukul (menyiksa) mereka sehingga kalian akan hina, dan jangan kalian melempar mereka (maksudnya janganlah kalian memenjarakan mereka tanpa alasan yang benar) sehingga kalian akan tertimpa fitnah (musibah), dan janganlah kalian tutup pintu untuk diberikan kepada selain mereka, sehingga yang kuat akan memangsa yang lemah, janganlah kalian memaksa mereka sehingga kalian menzaliminya dan janganlah kalian abaikan urusan mereka.

* Pada ketika ketiadaan syariat Islam dan kezaliman semakin bermaharajalela, kini menular nilai-nilai kemunafikan yang menindas anak bangsa yang cerdas dan rakyat yang layak dilindungi, jelas tekanan ke atas golongan cendekiawan dan media yang menjadikan tugas yang mereka pikul hanya untuk membenarkan tindakan kediktatoran dan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan, membenarkan kekejaman dan kezaliman serta kekerasan ke atas umat dan bangsa untuk memelihara kepentingan mereka yang lebih besar, dan membenarkan tindakan pengabaian dan kehinaan mereka terhadap musuh dengan alasan sebagai cara politik pragmatis.

Pada saat yang sama mereka menuduh para penentang sebagai kelompok yang keluar, pembangkang, perosak dan pengkhianat, menyifatkan nasihat yang menepati agama yang menjadi kewajiban untuk dilaksanakan mereka sebagai pemberontakan, menganggap kritikan terhadap sistem yang telah diterapkan sebagai penghinaan terhadap simbol-simbol negara, sehingga para pembangkang yang telah memberikan saranan dan nasihat yang baik berhak untuk mati dan dilenyapkan dari muka bumi, bahkan nasihat dari sudut agama pun mereka sanggup menolaknya. Tiada daya dan kekuatan kecuali hanya milik Allah semata-mata.

Justeru kita melihat bahawa ketiadaan Syariat Islam telah menghancurkan fitrah manusia, mengancam kehidupan sosial, mengurangkan kesempatan untuk menumbuhkan kreativiti dan prestasi, memadamkan kebaikan jiwa manusia, melenyapkan ciri-cirinya, menanamkan benih-benih perhambaan, menjadikan individu rasa rendah diri dan hina, sehingga akhirnya muncul peribadi yang tidak memiliki keyakinan diri, tidak dapat membuat keputusan yang sesuai dengan dirinya, muncul generasi yang buta dan tidak memiliki kemuliaan diri, keinginan yang sedikit dan lemah dalam menerima dan menolak.

Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan bangsa Arab dan umat Islam dari situasi terburuk ini kecuali dengan melakukan kerjasama dan penyelarasan bersama warga yang setia dan ikhlas dari bangsa ini, dan tidak terpedaya dengan tipu muslihat badan-badan yang zalim yang bertujuan ingin memecah belahkan kelompok umat dan kesatuannya; supaya bangsa Arab dan umat Islam dapat menetapkan jati dirinya dan menggunakan potensi bangsa dan masa depannya.

Ikhwan Muslimin, di manapun mereka berada dan bertitik tolak dari perasaan bertanggungjwab yang dimilikinya akan tetap membentangkan tangan mereka kepada semua kerajaan atau pemerintah yang ikhlas dan hidup tanpa terkecuali, untuk menyatukan misi dan mengintegrasikan potensi dalam menghadapi suasana yang sia-sia dan lemah fikiran ini; sehingga mampu membangkitkan umat dari tidur dan menempatkan diri pada kedudukan yang berhak dimiliki ditengah-tengah umat lainnya yang ada di muka bumi ini.

Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah semata.

Artikel Asal: http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=66664&SecID=213