Prof. Khoo Kay Kim said...

"The university today does not teach people how to think. The students come to university to make money. I always said to my students if you want to be rich don't come to university. The rich Chinese are mostly uneducated. To be rich you are not obliged to be highly educated. You can just pick one spot in KL and start selling Nasi Lemak and trust me your earning will be higher than university's Professor. People come to university in order to be a complete human being, not about making money. When I correct SPM history papers most of the time I will be correcting my own answer schemes. Our education system does not produce human but robots."- Prof Khoo Kay Kim

Ahad, Ogos 21, 2011

KH Ahmad Dahlan : Tokoh Pembaharu


Lahir dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1868 M bertepatan dengan 1285 H, di Kauman, Yogyakarta. Ayahnya bernama KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman seorang ulama dan khatib terkenal di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta saat itu yang jika diteruskan, maka garis keturunan KH. Ahmad Dahlan akan sampai ke Maulana Malik Ibrahim seorang wali besar dan salah satu wali yang berpengaruh di antara wali songo. Sedangkan ibunya Nyai Abu Bakar adalah putri KH. Ibrahim bin KH. Hasan, pejabat Kapengulon Kesultanan di Yogyakarta.

Pendidikan agama pertama kali ia terima langsung dari orangtuanya. Saat itu kebiasaan anak-anak kiai Kauman adalah belajar ilmu Fiqh, Al-qur’an, tata bahasa Arab, seperti nahwu dan sharaf, hadis dan ilmu-ilmu lainnya, mereka pun belajar pencak silat. Karena saat itu kondisi masyarakat sekitar jika belajar di sekolah milik penjajah maka akan dicap sebagai kafir. Maka pusat kegiatan mereka dalam menimba ilmu adalah masjid atau surau.

Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan dan iapun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902-1904, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah.


Sepulang dari Mekah ia menikah dengan Siti Walidah binti Haji Fadhil seorang pahlawan nasional dan pendiri Aisyiyah yang kelak akan lebih dikenal dengan sebutan Nyai Ahmad Dahlan yang masih saudara dari garis ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah. Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).


Ahmad Dahlan adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang luas. Meskipun usianya baru dua puluh tahun, ia mulai merintis jalan pembaruan di kalangan umat Islam. Misalnya, membetulkan arah kiblat shalat pada masjid yang dipandang tidak tepat arahnya yang sesuai dengan perhitungan menurut ilmu falakiyah yang dikuasainya. Usaha ini sempat menimbulkan insiden yang membuat diri dan istrinya hampir saja meninggalkan Kauman Yogyakarta selamanya. Kemudian memberikan pelajaran agama di sekolah negeri yang saat itu tidak pernah dilakukan oleh kyai lainnya.


Ahmad Dahlan juga sangat memperhatikan kaum dhuafa, anak yatim, dan fakir miskin agar selalu diperhatikan dan diayomi. Hal ini selalu ia ingatkan kepada murid-muridnya agar selalu memperhatikan dan menolong kaum dhuafa tersebut. Pernah suatu ketika beliau memberikan pelajaran kepada murid-muridnya tentang surat Al-Ma’un. Namun, surat Al-Ma’un ini selalu beliau ulang-ulang dalam setiap pertemuan pengajian sehingga menimbulkan protes dari murid-muridnya. Setelah dijelaskan lalu setelah pengajian selesai dan murid-muridnya masing-masing membawa anak yatim dan disantuni secukupnya.

Sebagai seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya, ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri, yaitu :

“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).


Dari pesan itu tersirat sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.


Sikap dan perilaku kiai Ahmad Dahlan yang berhaluan modernis mulai dikenal secara luas sebagai orang muda yang rasional dan kritis terhadap agama. Kehadirannya telah menarik perhatian sejumlah kalangan kiai di sekitarnya dan kalangan priyayi yang terlibat pergerakan dan pendidikan. Kiai Ahmad Dahlan muda yang selalu haus akan ilmu pengetahuan agama tersalurkan keinginannya dengan cara berguru ngaji kepada sejumlah kiai. Di antaranya kepada Kiai Mohammad Nur, kakak iparnya sendiri, KH. Said, Kiai Mukhsin, Kiai Abdul Hamid di Lempuyangan, R. Ng. Sosrosugondo (ayahanda dari Ir. Suratin tokoh sepakbola), dan R. Wedana Dwijosewoyo. Untuk ilmu hadis ia belajar kepada Kiai Makhfudh dan Syaikh Khaiyat. Untuk ilmu falak ia berguru kepada KH. Dahlan dari Semarang putra dari Kiai Termas yang juga menantu Kiai Sholeh Darat dari Semarang, juga memperoleh bimbingan dari Syaikh Mohammad Jamil Jambek dari Bukittinggi.


Kiai Ahmad Dahlan selain menjabat sebagai khatib Amin di Kapengulon, dipercaya pula untuk mengajarkan dasar-dasar agama Islam di sekolah-sekolah negeri, seperti di sekolah guru atau Kweekschool sering disebut Sekolah Raja di Jetis Yogyakarta; Sekolah Pamong Praja atau Osvia (Opleidingschool Voor Inlandsch Ambtenaren) di Magelang.


Pengalaman terlibat dalam dunia sekolah dan cita-citanya yang ingin memperbarui umat Islam lewat perubahan pemikiran, sikap dan perilaku memutuskan bahwa ia harus segera mendirikan sekolah agama, tetapi juga memberikan waktu bagi mata pelajaran ilmu pengetahuan.


Seperti kiai-kiai pada masa tersebut, sebelum Kiai Ahmad Dahlan mengimplementasikan pemikirannya untuk mendirikan sekolah tersebut, ia melaksanakan shalat istikharah berulang-ulang kali dan menyampaikan gagasannya ini kepada rekan-rekannya yang aktif dalam pendidikan dan pergerakan Budi Utomo. Setelah itu, ia bertambah yakin untuk mendirikan sekolah. Maka ia mendirikan sekolah yang diberi nama “Sekolah Muhammadiyah” yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu’allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu’allimat (Kweekschool Istri Muhammadiyah) yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan umu dan huruf latin sesuai dengan keinginan semula.


Selanjutnya guna menyebarluaskan pemikirannya tentang pembaruan Islam di Indonesia ini dan mewujudkan perintah Allah yang selalu ditelaahnya dan disampaikan kepada muridnya. Sepeti Surat Ali Imran [3] ayat 104 yang berbunyi:


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Maka Pada tahun 1912 atau tepatnya pada tanggal 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Sejak awal Kiai Ahmad Dahlan menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.


Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini ternyata selain mendapatkan dukungan dan simpati, juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.


Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari dan Imogiri dan lain-Iain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir.


Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jama’ah-jama’ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang diantaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.


Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).

Sampai akhir hayatnya (wafat tahun 1923) KH. Ahmad Dahlan menjadi ketua Pusat Muhammadiyah. Dengan bendera Muhammadiyah yang dikibarkannya sejak 1912 telah melakukan banyak pekerjaan besar bagi kemajuan bangsa dan masa depan umat Islam. Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut :


* KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
* Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam.
* Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.
* Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan. (zar, www.pkesinteraktif.com)

Khamis, Januari 13, 2011

SHEIKH TAHIR JALALUDDIN AL-FALAKI


SHEIKH TAHIR JALALUDDIN AL-FALAKI

Latarbelakang

Syeikh Tahir Jalaluddin sebenarnya merupakan seorang anak Melayu Minangkabau yang telah berhijrah dan menetap di Tanah Melayu. Di belakang namanya kerap disunting perkataan “Al-Azhari, Al-Falaki Assyahir” iaitu bererti beliau merupakan keluaran Universiti al-Azhar di Mesir dan seorang ahli Falak yang terkenal.

Nama lengkap Syeikh Tahir Jalaluddin ialah Muhamad Tahir bin Syeikh Muhammad. Beliau dilahirkan pada hari Selasa, 4 haribulan Ramadhan, tahun 1286 Hijrah bersamaan 7 haribulan Disember 1869 Masehi di Empat Angkat (Ampek Angkek), Bukit Tinggi Sumatera Barat. Ayah beliau iaitu Syeikh Muhamad merupakan seorang ulamak terkenal di Sumatera. Di dalam masyarakat Minangkabau Syeikh Muhammad lebih dikenali dengan nama Tuanku Muhammad atau Tuanku Tjangking.

Kedua-dua ibu bapanya meninggal ketika Syeikh Tahir baru berusia dua tahun. Oleh kerana Syeikh Tahir masih kanak-kanak lagi ketika ditinggalkan oleh ayah dan ibunya, beliau telah dipelihara oleh ibu saudara di sebelah pihak ibunya. Menjelang usianya lebih kurang sebelas tahun, ibu saudaranya telah menghantar beliau menuntut ilmu di Mekah. Di Mekah beliau tinggal bersama sepupunya Syeikh Ahmad Khatib yang menjadi pemimpin Mazhab Imam Syafie di Masjid al-Haram.

Di Mekah

Syeikh Tahir telah datang ke Mekah pada tahun 1297H (1880 m) bersama datuk sepupunya Haji Abdul Rahman. Di Mekah beliau tinggal bersama Syeikh Ahmad Khatib di dalam pemeliharaan al-Syeikh Muhammad Salleh Kardabi Fidullah al-Kurdi. Pelajaran asas yang diterimanya di sini ialah mengaji al-Qur’an dan mentajwidkan Qur’an daripada Tuan Syeikh Abdul Haq. Pelajaran lain berhubung dengan keugamaan dipelajarinya dari Syed Umar Syah, Syeikh Muhammad al-Khayyat, Syed Barkasyah dan sepupunya sendiri Syeikh Ahmad Khatib. Dalam jangka masa dua belas tahun Syeikh Tahir menetap di Mekah, beliau berpeluang mempelajari ilmu-ilmu ugama dengan mendalam. Banyak daripada ajaran-ajaran sepupunya, Syeikh Ahmad Khatib telah mempengaruhi jiwa Syeikh Tahir teristimewa berhubung dengan masalah amalan beragama umat Islam yang dikatakan bercampur aduk dengan amalan bida’ah. Syeikh Ahmad Khatib juga merupakan seorang guru yang bertauliah bagi masyarakat Jawi di Mekah pada waktu itu. Hasil dari pergaulan dengan Syeikh Ahmad Khatib telah mendorong Syeikh Tahir belajar ilmu agama dengan lebih mendalam lagi dari guru-guru lain di Mekah seperti yang telah disebutkan tadi. Dengan ini ketokohan beliau dari segi keagamaan setanding dengan gurunya yang menjadi kebangaan kepada masyarakat Melayu Indonesia dan Tanah Melayu.

Setelah tujuh tahun berada di Mekah, pada tahun 1304H (1884 M) beliau pulang ke tanah airnya, Minangkabau. Pada tahun berikutnya beliau kembali semula ke Mekah untuk menyambung pelajarannya. Beliau telah berkahwin buat pertama kalinya pada tahun 1306 H. (1886 M) dengan seorang gadis bernama Aisyah binti Syeikh Muhammad bin Syeikh Ismail Al-Khalid Kabul. Hasil perkongsian hidup dengan isterinya itu mereka beroleh dua orang anak tetapi kedua-duanya meninggal dunia di Mekah ketika Syeikh Tahir berada di sana.

Semenjak beliau tinggal di Mekah pada tahun 1297 H (1880 M.), beliau mula mendalami ilmu al-Quran. Seterusnya beliau mempelajari Ilmu Nahu (grammer), Bayan (Ilmu ucapan dan keterangan yang fasih), Ma’ani (ilmu makna-meaning), Badi’a (ilmu boleh mengenal pertuturan), Tauhid (ilmu mengenal Tuhan), Fekah (ilmu undang-undang), Usul Fikah (ilmu mengetahui asal undang-undang), Hadis (ilmu mengetahui perkataan, perbuatan dan kelakuan Rasul), Tafsir (ilmu menghuraikan makna-makna al-Qur’an), Hisab (ilmu kira-kira), Hisab Bidasab (Ilmu kira-kira sukat menyukat), Hai-ah (ilmu bintang) dan ilmu Falak (ilmu membicarakan matahari, bulan dan bintang-bintang beredar). Berdasarkan ilmu yang dipelajarinya itu adalah tidak menghairankan jika dia sangat mahir dalam soal yang berhubungan dengan masalah agama Islam.

Di Tanah Melayu

Syeikh Tahir dikatakan telah datang ke Tanah Melayu menjelang tahun 1899. Dalam tahun itu beliau telah mendirikan rumahtangga dengan seorang gadis Perak dari suku Rawa, bernama Aishah binti Haji Mustafa binti Datuk Menteri pada 28hb September 1899. Didapati beliau ini seorang yang tidak mudah berasa senang hati untuk tinggal menetap di satu-satu tempat. Sehingga tatkala beliau menetap di Tanah Melayu, beliau kerap belayar ke negeri-negeri di Indonesia dan negeri-negeri Timur Tengah, melawat sanak saudara, memberi ceramah-ceramah ugama dan sebagainya.

Di Perak setelah Syeikh Tahir berkahwin dengan isterinya Aishah binti Datuk Menteri, beliau mula menjalankan kerja-kerja harian untuk menyara keluarganya. Boleh dikatakan beliau seorang yang suka hidup berdikari. Pada tahun 1900 M. beliau pernah membuka kedai kain di Ipoh. Asas perniagaan ini dimulakan oleh bapa mertua beliau yang dikatakan agak `berada’ juga. Namun demikian kerja berjual kain itu hanya berjalan setakat setahun sahaja. Selepas itu beliau telah belayar lagi ke Kepuluan Indonesia pada tahun 1901 melalui Tanah Jawa, Bali, Beliling, Ampanan, Sumbawa, Bima dan Makasar. Dalam lawatannya itu ada kemungkinan beliau telah menyebarkan buah fikirannya mengenai ilmu agama ditempat-tempat yang di lawatinya.

Dalam tahun yang sama beliau berpindah pula ke Johor Baharu. Di Johor Baharu beliau dijemput oleh Yang Mulia Tengku Omar bin Ahmad, Hakim Besar Johor, bagi mengajar hakim-hakim pengadilan di mahkamah Johor. Diantara hakim-hakim yang mendapat tunjuk ajar beliau ialah Ungku Ismail bin Ahmad, Ungku Abdul Rahman bin Abdul Majid dan lain-lain pengadil bangsa Melayu. Tugas mengajar hakim-hakim tersebut berlangsung selama lebih kurang tiga tahun. Dalam masa beliau bertugas inilah, Sultan Idris (1887-1916) sebagai Sultan Perak mengajak beliau ke London kerana menghadiri kemahkotaan King George pada 22 Jun, 1911.

Pada 3hb Julai 1912 beliau meletakkan jawatan sebagai guru kepada hakim-hakim di Johor Baharu, dan mulai tahun 1914 beliau bertugas pula sebagai guru di sekolah Agama Johor Baharu dan menjadi Pemeriksa Sekolah-sekolah Agama Johor (Nazir). Ternyata kemudian sewaktu menjawat jawatan tersebut beliau berasa tidak puashati dengan system pendidikan dan cara pentadbiran sekolah-sekolah agama waktu itu. Dalam suratnya kepada Yang Di Pertua Jabatan Pendidikan Negeri Johor, beliau menyatakan dukacitanya kerana “tidak boleh menjalankan peraturan pelajaran yang terlebih berfaedah dan berguna bagi kanak-kanak yang belajar”. Beliau akhirnya meminta berhenti kerja pada tahun 1916.

Dua tahun setelah kembali ke Perak pada tahun 1920, beliau telah diminta oleh rakan seperjuangan Syed Syeikh bin Ahmad Al-Hadi, untuk menjadi guru di Madrasah Al-Masyhur Al-Islammiyah di Pulau Pinang bersama-sama seorang rakannya Syeikh Abdullah Maghribi. Khidmat beliau di Madrasah itu pun tidak lama kerana beliau telah jatuh sakit. Di Al-Masyhur beliau ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran Ilmu Falak kepada pelajar-pelajar Madrasah itu. Dan menjelang tahun 1923, beliau berangkat pula ke Medan dan Deli untuk berubat dan melawat tanah tumpah darahnya Minangkabau selama enam bulan.

Sebagai seorang ahli falak

Sebagai seorang alim yang mempunyai kedudukan baik dimata masyarakat, beliau begitu dihormati. Jawatan-jawatan yang dipegangnya semasa berada di Perak dan juga di Johor membuktikan tenaga dan ilmunya mendapat perhatian. Pengetahuannya banyak dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakatnya. Beliau sering diberi kepercayaan untuk membantu menyelesaikan masalah hukum agama berdasarkan keilmuannya yang luas baik di dalam Ilmu Falak mahupun yang berhubung dengan soal keagamaan.

Sebagai seorang ahli Falak, beliau sering dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan berhubung dengan cara menggunakan Ilmu Hisab bagi menentukan tarikh berpuasa dan berhari raya. Banyak daripada pertanyaan-pertanyaan tersebut datang dari penduduk di Tanah Melayu mahupun dari Indonesia. Pandangan beliau mengenai tarikh kemunculan anak bulan Ramadhan atau pun bila berlakunya gerhana matahari, sering kali disiarkan diakhbar-akhbar tempatan. Selain itu beliau juga sangat mengambil berat tentang amal kebajikan di dalam masyarakatnya. Misalnya beliau sangat memberatkan pentingnya sesebuah masjid itu mempunyai kiblat yang betul dan tepat mengikut hala Kaabah di Mekah. Beliau berpendapat bahawa sembahyang tanpa menghadapi arah kiblat yang tepat adalah tidak sah. Dengan itu beliau merasa bertanggungjawab bagi membetulkan kiblat masjib oleh kerana beliau memahami Ilmu Falak.

Memandangkan betapa pentingnya kiblat bagi syarat sah sembahyang orang Islam, Syeikh Tahir pernah dilantik oleh Sultan Idris, Perak untuk menjadi pemeriksa kiblat diseluruh negeri Perak. Beliau pernah melahirkan kekesalannya kerana terdapat banyak mihrab masjid yang tidak sehala dengan arah kiblat. Misalnya ketika beliau menjadi pemeriksa kiblat masjid-masjid di Perak pada tahun 1900 beliau telah melapurkan bahawa terdapat banyak masjid-masjid di Tanah Melayu tidak menuju hala kiblat yang tepat seperti mana yang berlaku kepada masjid di Teluk Anson, Perak. Selain itu didapati juga masjid-masjid di Pulau Pinang, masjid di Kuala Lumpur dan Masjid Sultan di Kampung Gelam, Singapura turut tidak mengikut hala kiblat yang betul. Ekoran dari timbulnya kekeliruan dalam hal berkaitan dengan hala kiblat masjid, Syeikh Tahir telah mengambil inisiatif untuk menerbitkan dua buah buku. Buku Pati Kiraan pada menentukan waktu yang Lima dan hal Kiblat dengan Logarithma, diterbitkan di Singapura melalui al-Ahmadiah Press pada tahun 1938. Seterusnya pada tahun 1951 diterbitkan pula buku Natijah al-Ummi (pendapat kira-kira pada takwim tarikh Hijrah dan Miladi, hala kiblat Mazhab Shafii).

Keilmuan beliau dalam bidang Ilmu Falak menyebabkan beliau digelar sebagai Syeikh Tahir Jalaluddin Al-Falaki. Mengenai pentingnya ilmu falak itu beliau pernah menyatakan bahawa: “Ilmu Falak itu suatu ilmu yang mulia bagi menyukat, menimbang perjalanan bulan dan matahari”. Kenyataan beliau itu dilihat bersesuaian dengan sabda Rasul Allah yang mengatakan, “sebaik-baik hamba Allah itu mereka yang mengintai-intai matahari dan bulan dan naung bagi mendirikan sembahyang”. Berdasarkan kepada sabda Nabi itu Syeikh Tahir sangat menitik beratkan kepentingan mempelajari Ilmu Falak. Pentingnya pengetahuan ilmu Falak bagi orang Islam dikatakan berkait rapat dengan soal kiblat dalam sembahyang, menentukan waktu sembahyang serta menetapkan tarikh berpuasa dalam bulan Ramadhan dan berhari raya.

Kemahiran Syeikh Tahir dalam bidang Ilmu Falak menunjukkan beliau mempunyai minat yang mendalam tentang Ilmu Hisab atau matematik. Beliau turut mengecam mereka-mereka yang tidak mahu menghargai kepentingan Ilmu Hisab untuk menentukan tarikh berpuasa dan berhari raya. Menurut Syeikh Tahir penggunaan cara Hisab untuk menentukan tarikh berpuasa dan berhari raya adalah penting terutama jika berlaku cuaca buruk yang tidak memungkinkan kelihatan anak bulan untuk menandakan hari mula berpuasa dan berhari raya. Menurut beliau bagi mereka yang tidak mahu menggunakan kaedah Hisab untuk menentukan tarikh berpuasa dan berhari raya samalah juga mereka itu seperti manusia yang jahil. Kejahilan mereka menyebabkan mereka hanya mengikut pendapat orang hingga menyebabkan berlaku puasa yang terdahulu sehari daripada sepatutnya dalam bulan Ramadhan.

Dalam soal kiblat pula beliau mengatakan orang Islam wajib mempelajari arah kiblat, dan wajib pula menyebarkan pengetahuannya itu. Mengenai hal ini beliau mengatakan:

Tiada boleh `berijtihad’ pada kiblat itu melainkan orang yang ada celik matanya dan mengetahui dalil-dalil kiblat seperti bintang-bintang, matahari dan bulan dan selemah-lemahnya angin dan sekuat-kuatnya khutub dan tiada boleh ia bersandar semata-mata sangka dengan tidak tanda dan dalil.

Beliau juga berpendapat bahawa orang-orang yang buta dikecualikan daripada mempelajari dalil kiblat demikian juga orang-orang celik yang tidak mampu mempelajarinya. Betapa pun mereka harus mengikut petunjuk orang-orang yang arif tentang dalil kiblat.

Kenyataan-kenyataan beliau yang disiarkan diakhbar-akhbar mengenai banyaknya masjid-masjid di Tanah Melayu dan Sumatera yang tidak mengikut hala kiblat, akhirnya menimbulkan kesedaran orang ramai. Kesannya di Tanah Melayu orang ramai juga turut mengakui banyak daripada masjid-masjid di Kedah, Perlis, Pulau Pinang, Melaka dan lain-lain tidak mengikut hala kiblat yang betul. Mengenai keadaan ini seorang pembaca pernah mengulas:

Kedudukan ugama kita adalah di dalam kucar kacir. Satu-satunya yang menjadi suasana di dalam masyarakat ugama kita ialah masalah kiblat masjid dan masalah ini telah menjadi soal yang hangat di dalam masyarakat ugama kita.

Meskipun kesan daripada persoalan kiblat ini membuka mata masyarakat tentang banyak kesilapan hala kiblat yang berlaku di masjid-masjid Tanah Melayu, namun pendedahan ini menimbulkan rasa tidak senang hati di kalangan pihak-pihak tertentu. Misalnya Syeikh Tahir pernah dibicarakan oleh mahkamah di Pulau Pinang oleh kerana beliau menjalankan penyiasatan letak kiblat di masjid Pulau Pinang. Pendapat beliau juga pernah ditentang oleh seorang pembaca akhbar yang menganggap soal kiblat itu tidak penting digembar-gemburkan, memadailah jika sembahyang menghadap kekiri atau kanan kiblat.

Melihat kepada ramai lagi mereka yang tidak memahami Ilmu Falak dan kepentingannya dalam soal agama, beliau terus menyebarkan ilmunya walaupun ketika beliau sudah tua dan uzur. Kegigihannya menyumbangkan tenaga untuk menyebarkan pengetahuan ini amat jelas kelihatan. Misalnya ketika beliau berusia 79 tahun beliau telah pergi ke Bangkok di Thailand untuk mengajar kira-kira hala kiblat. Menjelang usia 83 tahun, Syeikh Tahir dijemput pula oleh pihak Jabatan Agama Johor untuk mengajar Ilmu Falak kepada kakitangan jabatan itu. Ini dilakukan selama enam bulan dengan berulang alik dari Kuala Kangsar ke Johor Baharu.

*berdasarkan kertas kerja Mohd Sarim Hj. Mustajab, Pusat Penataran Ilmu dan Bahasa Universiti Malaysia Sabah

SYED SYEIKH AL HADI DAN SEBUAH TRAGEDI

SYED SYEIKH AL HADI DAN SEBUAH TRAGEDI PDF Print E-mail
Written by zain y.s
Wednesday, 19 September 2007

Image"Wahai sekelian ikhwan timur yang sedang lenyak di dalam tidurnya. Wahai sekelian saudara kami yang sedang lina bersedap-sedap di dalam keelokan mimpinya. Memadalah. Memadalah. Memadalah tidurmu itu kerana telah melampaui sangatlah sudah daripada sempadan mengambil kesenangan bilangan pingsan atau orang mati yang bernafas. Bangunlah segera. Sapulah mata daripada bekas tidur yang membunuh itu..."

Syed Syeikh Al Hadi, Al Ikhwan

Begitulah kata-kata yang diungkapkan oleh seorang tokoh yang banyak jasanya kepada negara kita ini. Syed Syeikh al Hadi satu nama yang tidak perlu diperkenalkan lagi. Namun sejak akhir-akhir ini tokoh yang telah menjadi bapa kepada kewartawanan ini semakin dilupakan. Malah jasa beliau yang paling teserlah adalah mendirikan sebuah Madrasah yang sangat masyur dan diberi nama Madrasah Al Mashoor di Pulau Pinang.(kini dikenali sebagai SMKA Al Mashoor dan Mahaad Mashoor Islami) Sejarah perjuangan beliau yang tidak mengenal penat dan lelah tersebut seharusnya disanjug sebagai sebuah pengorbanan yang besar.

Namun demikian, tidak semuanya dihargai. Kediaman beliau di Jelutong, Pulau Pinang masih lagi menjadi monumen bersejarah yang dilupakan sejarahnya!. Justeru tulisan ini diharap dapat mengcungkil kembali rasa tanggungjawab umat Islam di Malaysia yang seharusnya bertindak segera ke arah menobatkan sebuah rumah yang melahirkan pemikiran-pemikiran yang menyedarkan umat Islam sebagai salah satu warisan negara yang tidak ternilai harganya!. Namun sayang sekali kerana rumah tersebut kini menjadi sebuah rumah berhala. Rumah di mana beliau melahirkan pemikiran dan syor-syor yang meyedarkan masyarakat Melayu di seluruh nusantara telah tergadai begitu sahaja.

Pengenalan Ringkas Tentang Syed Syeikh Al Hadi

ImageSyed Syeikh Al Hadi merupakan anak kelahiran Kampung Hulu, Melaka. Beliau dilahirkan pada hari Selasa 24 Rejab 1281 H bersamaan 25 Disember 1864. Beliau pulang ke rahmatullah pada 17 Zulkaedah 1344 H Bersamaan 4 April 1931 di Mukim Jelutong, Pulau Pinang. Bapa Syed Syeikh Al hadi bernama Syed Ahmad bin Hassan Al Hadi adalah berbangsa Arab yang berasal dari Hadramaut yang dilahirkan di Melaka. Malah nenda Syed Syeikh al Hadi turut di lahirkan di Melaka iaitu Syed Hassan bin Saggaf al Hadi. Beliau yang mendapat pendidikan Bahasa Arab daripada bapanya dan seterusnya mendapat pendidikan agama di sebuah sekolah agama dan Sekolah Melayu Straits Settlements, Melaka. kemudian beliau mengikut keluarganya yang mempunyai pertalian darah dengan keluarga Di Raja Riau, berpindah ke Pulau Penyengat. Di sana beliau dijadikan anak angkat oleh Raja Ali Kelana bin Raja Ahmad, adik tiri kepada Sultan Riau-Lingga yang juga Raja Muda. Kemudiannya beliau dihantar ke sebuah Pondok di Terengganu untuk mendalami ilmu agama. Namun begitu, beliau tidak lama di situ kerana beliau berpendapat bahawa sistem pengajian pondok hanya mengajar muridnya untuk menghafaz bukan berfikir. Setelah pulang ke Pulau Penyengat beliau terlibat dengan kesusasteraan di dalam Kelab Rasyidiyyah. Malah semasa tinggal di Pulau Penyengat, beliau berkesempatan ke Timur Tengah khususnya Arab Saudi dan Mesir kerana menemani anak-anak raja yang ingin melanjutkan pengajian atau menunaikan umrah dan haji. Di sinilah beliau terpengaruh dengan pemikiran Syed Muhamad Abduh yang membawa pemikiran Islah yang akhirnya pemikiran tersebut dikembangkan di Tanah Melayu.

Sumbangan Syed Syeikh Al Hadi dalam Kewartawanan

Syed Syeikh Al Hadi telah melihat medan penulisan sebagai satu medan untuk menyedarkan umat Melayu ketika itu. Usahanya ini terbukti apabila majalah Al Imam dikeluarkan pada 22 Julai 1906 yang ditulis dengan tulisan jawi berukuran lebar 6.3 inci serta panjang 8.6 inci. Pada mulanya majalah ini dicetak oleh Matbaah Melayu Tanjung Pagar dan kemudiannya oleh Al Imam Printing Company Limited. Al Imam mengandungi 32 halaman yang dijual dengan harga 25 sen wang British. Al Imam telah diterbitkan bersama-sama beberapa orang temannya seperti Syeikh Tahir Jalaluddin Al Azhari, Syeikh Salim Al Kalali, dan Haji Abbas bin Mohd Taha. Namun begitu Al Imam terhenti disebabkan masalah kewangan tetapi majalah ini telah mendapat sambutan hangat di Tanah melayu dan Indonesia. Kemudiannya beliau menerbitkan akhbar Al Ikhwan pada 1926 dan akhir sekali akhbar Saudara pada 1928.

Daripada akhbar-akhbar inilah Syed Syeikh Al Hadi telah menyebarkan fahaman dan idea-idea ke arah pembaikpulih umat Melayu dan seterusnya meningkatkan taraf orang Melayu yang krtikal ketika itu. Beliau telah berusaha dengan gigihnya untuk menyedarkan orang Melayu betapa pentingnya untuk bangun dan berusaha dan bukannya sekadar bermalas-malasan.

Syed Syeikh Al Hadi dan Islah

Syed Syeikh Al Hadi terpengaruh dengan pemikiran Kaum Muda hasil daripada pengajiannya dengan Syeikh Muhammad Abduh dan Syeikh Jamal al Din Al Afghani di Mesir dan Arab Saudi. Pemikiran ini telah di ambil ketika beliau berulang alik dari Pulau Penyengat ke Timur tengah khususnya Mesir. Justeru, Syed Syeikh Al Hadi berusaha menghapuskan salah faham agama yang membelenggu umat Islam dengan memerangi amalan khurafat dan bida’ah. Beliau juga dengan bantuan beberapa teman-teman seperti Syeikh Abdullah al Maghribi dan Syeikh Tahir Jalaluddin menghapuskan ajaran Taslim dengan menjalankan penyelidikan selama 3 bulan. Berikutan itu satu perhimpunan diadakan di Masjid Jelutong dan beliau membuktikan ajaran tersebut adalah sesat dan kitab-kitab ajaran tersebut dibakar. Idea pemikiran islah atau aliran Kaum Muda ini telah banyak membantu ke arah “membasuh” minda masyarakat Melayu ke arah memahami Islam yang sebenarnya dan bukannya jumud dan beku seperti sesetengah golongan yang tidak mahu berubah.

Sumbangan Dalam Bidang Pendidikan

Sebagai seorang cendakia ulung, Syed Syeikh Al Hadi menyedari bahawa pendidikan adalah medan ke arah pembinaan jiwa yang murni. Beliau telah menubuhkan satu sistem persekolahan sendiri dengan menubuhkan Madrasah Iqbal Islamiyyah di Seligi Road, Singapura pada 1907. Namun setelah dua tahun ditubuhkan sekolah itu terpaksa ditutup disebabkan perselisihan faham antara ibu bapa dengan guru dan beberapa masalah lain. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangat Syed Syeikh Al Hadi. Beliau kemudiannya menubuhkan sebuah sekolah yang diberi nama Madrasah al Hadi di Bandar Kaba, Melaka pada tahun 1915. Walaubagaimana pun sekolah ini juga tidak lama lalu berkubur. Atas kegagalan yang kedua beliau telah berhijrah ke Pulau Pinang dan akhirnya berjaya menubuhkan madrasah Al Mashoor Islamiyyah di Tek Soon Street, Pulau Pinang pada 1919. Berkat usaha dan bantuan daripada teman-temannya, akhirnya madrasah tersebut telah menjadi sebuah pusat pengajian Islam yang penting ketika itu. Kemunculan Madrasah Al Mashoor ini tidak boleh dipandang enteng kerana inilah antara madrasah yang awal yang kekal hingga kini. Malah madarasah ini telah melahirkan beberapa pemimpin dan tokoh yang disegani seperti Dr Buharnuddin Al Helmy mantan Yang DiPertua Parti Islam SeMalaysia (PAS) dan Haji Abu Bakar Ashaari (Perlis). Pengaruh pendidikan ini telah melebar dengan luasnya di serata pelusuk negara hingga tertubuhnya Madrasah Idrisiah, Perak yang diplopori oleh Syeikh Abdullah Maghribi pada tahun 1934 dan beberapa buah lagi madrasah yang tumbuh berdasarkan kepada pemikiran Kamu Muda.

Seruan Untuk Umat

ImageMelihat daripada sumbangan beliau kepada agama, bangsa dan negara sememangnya tokoh ini kaya dengan jasa. Oleh itu penulis menyeru supaya kepada pihak-pihak terbabit agar dapat membantu usaha mendapatkan kembali rumah Syed Syeikh Al Hadi ini. Syed Syeikh Al Hadi telah meninggalkan khazanah ilmu yang banyak kepada kita semua. Beliau telah tiada yang ada hanyalah rumah sebagai tanda usahanya selama ini. Adalah tidak patut untuk kita membiarkan rumah beliau “terlepas” begitu sahaja. Penulis merayu supaya pihak tertentu supaya memastikan rumah beliau kembali sebagai sebuah warisan dan bukannya rumah berhala. Marilah kita sama-sama merenungi kata-kata Syed Syeikh Al Hadi dalam Akhbar Saudara untuk kita sama-sama muhasabah wajarkah kita membiarkan rumah tersebut terlepas begitu sahaja.

Wahai Saudara- Apa sukakah tuan-tuan menjadi ahli-ahli kubur sebelum mati? Ataupun menjadikan watan kita ini umpama padang-padang yang sunyi sama sekali isinya daripada ahli-ahli iman yang kasih akan watannya?.

Saudara, 10 April 1932.

Khamis, Disember 30, 2010

SAHABAT R.A.: ANTARA AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH DAN SYI’AH

SAHABAT R.A.: ANTARA AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH DAN SYI’AH

Oleh: Ust. Ahmad Nasim bin Abd. Rauf

Di antara perbezaan asas antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah kepercayaan berkenaan sahabat-sahabat Nabi s.a.w.. Perbezaan pendapat antara kedua aliran ini sama sekali tidak dapat berhimpun kerana ia adalah punca pertelingkahan dan perbalahan.

Untuk mengetahui dengan lebih lanjut berkenaan perbezaan tersebut maka kitab rujukan utama kedua pihak menjadi asas kepada perbincangan ini.

Pandangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah Terhadap Sahabat-Sahabat r.a..

Sebelum mengemukakan pandangan Ahlus Sunnah terhadap sahabat-sahabat r.a. berdasarkan hadith-hadith rasul dan al-Quran sangat perlu sekali untuk mengenali siapakah yang dikatakan sebagai sahabat-sahabat Nabi s.a.w. itu.

Ta’rif Sahabat:

Ulama berselisih pendapat berkenaan ta’rif sahabat. Di antara ulama yang membincangkan dengan panjang lebar berkenaan perselisihan tersebut ialah Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitabnya al-Isabah. Di antara beberapa pendapat tersebut, pendapat yang disepakati adalah seperti berikut:

أن الصحابي من لقى النبي صلى الله عليه وسلم مؤمنا به ومات على الاسلام ". فيدخل فيه من لقيه من المسلمين ممن طالت مجالسته أو قصرت، روى عنه أو لم يرو، غزا معه إو لم يغز، من رآه رؤية ولو لم يجالسه، ومن لم يره لعارض كالعمى. ويدخل في هذا العموم الاطفال الذين ولدوا في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ورأوه في حال الطفولة.

Sesungguhnya sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi s.a.w. dalam keadaan beriman dan mati di atas Islam. Termasuk di dalamnya ialah yang bertemu Baginda dari kalangan orang-orang Islam sama ada lama tinggal bersamanya atau seketika, meriwayatkan hadith daripadanya atau tidak, berperang bersamanya atau tidak, melihatnya walaupun sekali dan tidak pernah bersamanya dan tidak pernah melihatnya kerana sesuatu sebab seperti buta. Termasuk di dalam ta’rif umum ini ialah kanak-kanak yang dilahirkan di zaman Nabi s.a.w. dan melihatnya ketika masih kecil lagi.

Setengah ulama memasukkan di dalam ta’rif tersebut ‘walaupun diselangi dengan murtad ditengah-tengahnya dan ia kembali semula kepada Islam sama ada bertemu pula dengan Nabi s.a.w. atau tidak’. [i]

Keutamaan Sahabat Berdasarkan Al-Quran.

Ayat-ayat al-Quran yang menyebutkan kelebihan sahabat-sahabat r.a. terlalu banyak untuk dikemukakan kesemuanya. Sebahagiannya akan dikemukakan di bawah ini.

Pertama: Golongan sahabat yang telah memberikan pengorbanan sebelum pembukaan kota Makkah oleh Nabi s.a.w. dan sahabat-sahabatnya diberikan kedudukan yang sangat tinggi berbanding dengan yang selepasnya. Ini adalah disebabkan pengorbanan pada ketika itu sangat diperlukan dan umat Islam berhadapan dengan cabaran yang sangat besar daripada musuh-musuh. Walaubagaimanapun kedua-dua golongan sahabat tersebut dikurniakan ganjaran besar iaitu al-Husna. Ulama-ulama mentafsirkannya sebagai ganjaran yang besar dan syurga.[ii]

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Tidaklah sama di antara kamu, orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sebelum kemenangan (Nabi menguasai Mekah). Mereka itu lebih besar darjatnya daripada orang-orang yang membelanjakan hartanya serta turut berperang sesudah itu dan tiap-tiap satu puak dari keduanya, Allah janjikan (balasan) yang sebaik-baiknya. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendalam PengetahuanNya akan apa yang kamu kerjakan. [iii]

Kedua: Janji Allah taala kepada golongan sahabat dari kalangan Muhajirin dan Ansar bahawa syurga disediakan untuk mereka. Bukan hanya mereka yang akan memperolehi ganjaran besar tersebut bahkan orang-orang yang mengikuti mereka juga. Firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Dan orang-orang yang terdahulu yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang "Muhajirin" dan "Ansar" dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah reda akan mereka dan mereka pula reda akan Dia, serta Dia menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar. [iv]

Ketiga:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Wahai Nabi, cukuplah Allah menjadi Penolongmu dan juga pengikut-pengikutmu dari orang-orang yang beriman. [v]

Keempat: keredhaan Allah terhadap seramai lebih dari seribu empat ratus orang sahabat yang berbai’ah dengan Nabi s.a.w. di bawah pokok yang dipanggil bai’ah ar-redhuan.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Demi sesungguhnya! Allah reda akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya[vi]

Kelima: golongan sahabat adalah merupakan golongan pertama yang ditujukan oleh Allah taala sebagai golongan sebaik-baik umat di dalam firman-Nya yang berbunyi:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji) serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman) dan kalaulah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana yang semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka. (Tetapi) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka orang-orang yang fasik. [vii]

Keenam: di dalam ayat di bawah sahabat juga merupakan golongan pertama yang dimaksudkan oleh Allah taala dan merupakan yang paling layak untuk menjadi saksi keimanan manusia yang lain.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. [viii]

Ketujuh: sahabat-sahabat merupakan neraca untuk menilai sejauh mana tahap keimanan umat kemudian sama ada berada di atas landasan kebenaran atau sebaliknya. Ayat ini pada asalnya ditujukan kepada golongan Yahudi sebagai menilai kebenaran iman mereka dengan dibandingkan dengan keimanan sahabat-sahabat r.a. dan ia tetap membuktikan ketinggian serta kebenaran sahabat berdasarkan al-Quran.

فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

Maka jika mereka (umat kemudian) beriman kepada apa yang kamu (sahabat-sahabat) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam kebengkokan.[ix]

Banyak lagi ayat al-Quran yang menyebutkan berkenaan kedudukan tinggi sahabat-sahabat r.a..

Kedudukan Sahabat-Sahabat r.a. Berdasarkan Hadith-Hadith Rasulullah s.a.w.

Kedudukan mulia sahabat-sahabat r.a. juga diriwayatkan dengan begitu banyak melalui sabdaan Rasulullah s.a.w.. Sebahagiannya akan dikemukakan di sini:

Pertama: pengorbanan yang telah diberikan oleh sahabat-sahabat r.a. amat besar dan cabaran serta rintangan yang dihadapi mereka juga begitu hebat dalam memperjuangkan agama Nabi s.a.w.. Kerana itu pengorbanan mereka walaupun sedikit tetapi nilainya begitu besar di sisi Allah. Nabi s.a.w. bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Daripada Abu Sa’id al-Khudri r.a. katanya, Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah kamu mencaci sahabat-sahabatku, sesungguhnya kalaulah seorang kamu membelanjakan emas sebesar bukit Uhud nescaya tidak akan menyamai perbelanjaan mereka walaupun secupak bahkan setengah cupak”.[x]

Kedua: Disebabkan sahabat-sahabat r.a. adalah manusia terbaik pernah dilahirkan di kalangan umat ini maka zaman yang dilalui oleh mereka adalah merupakan zaman keemasan dan zaman paling gemilang sebagaimana yang diakui oleh Junjungan s.a.w.:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Daripada Abdullah bin Mas’ud r.a. daripada Nabi s.a.w. sabdanya: “Sebaik-baik manusia adalah kurunku kemudian orang-orang yang mengiringi mereka kemudian orang-orang yang mengiringi mereka”.[xi]

Ketiga: Sahabat-sahabat r.a. adalah orang yang benar-benar mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi s.a.w.. Perjalanan hidup mereka tidak melencong daripada apa yang dibawa Baginda walaupun sedikit sehingga Baginda mengatakan bahawa seolah-olah merekalah orang yang diutuskan oleh Allah taala kepada umat kemudian walaupun pada hakikatnya yang diutuskan oleh Allah adalah Nabi s.a.w. sendiri. Di antara pengakuan tersebut ialah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. berkata kepada mereka (sahabat-sahabat): “Kamu hanya diutuskan untuk mempermudahkan dan kamu bukan diutuskan untuk menyusahkan”.[xii]

Keempat: Kecintaan kepada sahabat-sahabat r.a. merupakan di antara tuntutan agama Islam kerana kecintaan kepada mereka pada hakikatnya adalah kecintaan kepada Nabi s.a.w. juga dan begitulah sebaliknya. Kerana itu menjadi kewajipan kepada umat kemudian agar mengambil sikap berhati-hati bila berbicara berkenaan sahabat-sahabat r.a. supaya tidak terjerumus di dalam golongan yang akan diazab oleh Allah taala.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ

Daripada Abdullah bin Mughoffal katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: “(bertakwalah kamu) kepada Allah berkenaan sahabat-sahabatku, (bertakwalah kamu) kepada Allah berkenaan sahabat-sahabatku, janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran (kebencian kamu) sepeninggalanku. Sesiapa yang kasih kepada mereka maka kerana kasihkan kepadaku dia mengasihi mereka dan sesiapa yang membenci mereka maka kerana bencikan aku dia membenci mereka. Sesiapa yang menyakiti mereka bermakna dia telah menyakitiku, sesiapa yang menyakitiku bermakna dia telah menyakiti Allah dan sesiapa yang menyakiti Allah pasti Allah akan mengazabnya”.[xiii]

Mempertikaikan mana-mana sahabat walaupun sekecil-kecil sahabat yang tidak dikenali namanya pun bermakna mengingkari al-Quran dan hadith Nabi s.a.w.



[i] Al-Isabah Fi Tamyiz as-Sahabah jil. 1 hal. 7, Ma’rifah ath-Thiqah al-‘Ijli jil. 1 hal. 95, Taisir Mustalah al-Hadith hal. 97

[ii] Lihat tafsir-tafsir seperti Ruh al-Ma’ani, Tafsir Ibnu Kathir, at-Tahrir wa at-Tanwir dan lain-lain.

[iii] Al-Quran surah al-Hadid ayat 10

[iv] Al-Quran surah at-Taubah ayat 100

[v] Al-Quran surah al-Anfal ayat 63

[vi] Al-Quran surah al-Fath ayat 18

[vii] Al-Quran surah Aali-Imran ayat 110

[viii] Al-Quran surah al-Baqarah ayat 143

[ix] Al-Quran surah al-Baqarah ayat 137

[x] Sahih al-Bukhari Bab Sabda Nabi s.a.w. Kalaulah Aku Hendak Menjadikan Seorang Kekasih, Sahih Muslim Bab Haram Mencela Sahabat Nabi s.a.w.

[xi] Sahih al-Bukhari Bab Kelebihan Sahabat r.a., Sahih Muslim Bab Kelebihan Sahabat r.a. Kemudian Orang Yang Mengiringi Mereka.

[xii] Sunan Abi Daud, Sunan At-Termizi, Musnad Ahmad

[xiii] Sunan at-Termizi Bab Berkenaan Orang Yang Mencaci Sahabat-Sahabat Nabi s.a.w.

Al-Quran: Antara Ahlus Sunnah Wal Jamaah Dan Syi’ah

Al-Quran: Antara Ahlus Sunnah Wal Jamaah Dan Syi’ah

Oleh: Ustaz Ahmad Nasim

Perbezaan pegangan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah adalah begitu jauh sekali bagaikan langit dan bumi bahkan lebih lagi itu. Di antara pegangan yang sangat jauh perbezaan antara kedua firqah ini ialah kepercayaan terhadap al-Quran yang diturunkan oleh Allah taala kepada Nabi s.a.w. dan diimani oleh umat Islam sejak sekian lama.

Untuk membuktikan perbezaan tersebut maka perlulah diteliti dan dikaji riwayat-riwayat dan pendapat-pendapat pendokong kedua-dua golongan ini di dalam kitab-kitab sandaran utama masing-masing.

Pandangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah terhadap al-Quran.

Ahlus Sunnah beri’tiqad bahawa al-Quran yang diturunkan kepada Nabi s.a.w. dan terdapat di tangan umat Islam dari dahulu hingga sekarang terpelihara daripada sebarang penyelewengan, tambahan, pengurangan dan sebagainya. Kepercayaan sedemikian menjadi satu pegangan yang begitu masyhur dan mutawatir serta dapat diketahui dengan mudah oleh semua kalangan umat Islam sehingga tidak perlu dikemukakan sebarang dalil untuk menguatkan pegangan ini. Al-Quran terpelihara daripada semua bentuk penyelewengan tersebut dengan pemeliharaan daripada Allah taala sendiri sebagaimana janjinya di dalam al-Quran yang berbunyi:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Bermaksud: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kamilah yang memeliharanya.[i]

Kerana itu tidak terdapat di dalam mana-mana kitab yang menjadi sandaran Ahlus Sunnah walaupun satu riwayat sahih yang menyalahi pegangan tersebut bahkan ulama-ulama besar Ahlus Sunnah dengan jelas mengatakan sesiapa yang mengatakan bahawa terdapat sebarang penyelewengan atau tokok tambah di dalam al-Quran maka ia terkeluar dari Islam.

Di antara ulama Ahlus Sunnah yang jelas mengatakan demikian adalah:

Qadhi ‘Iyadh:

وقد أجمع المسلمون أن القرآن المتلو في جميع أقطار الأرض المكتوب في المصحف بأيدى المسلمين مما جمعه الدفتان من أول (الحمد لله رب العالمين - إلى آخر - قل أعوذ برب الناس) أنه كلام الله ووحيه المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم وأن جميع ما فيه حق وأن من نقص منه حرفا قاصدا لذلك أو بدله بحرف آخر مكانه أو زاد فيه حرفا مما لم يشتمل عليه المصحف الذى وقع الإجماع عليه وأجمع على أنه ليس من القرآن عامدا لكل هذا أنه كافر ولهذا رأى مالك قتل من سب عائشة رضى الله عنها بالفرية لأنه خالف القرآن ومن خالف القرآن قتل أي لأنه كذب بما فيه، وقال ابن القاسم من قال إن الله تعالى لم يكلم موسى تكليما يقتل

Orang-orang Islam sepakat bahawa al-Quran yang dibaca di seluruh pelusuk bumi, ditulis di dalam mushaf yang berada di tangan umat Islam yang dihimpunkan oleh dua helaian bermula daripada الحمد لله رب العالمين sehingga قل أعوذ برب الناس adalah kalam Allah dan wahyunya yang diturunkan kepada nabinya Muhammad s.a.w. dan segala yang terkandung di dalamnya adalah benar. Sesiapa yang mengurangkan daripadanya walaupun satu huruf atau menukarkan satu huruf dengan menggantikan satu huruf yang lain ditempatnya atau menambahkan satu huruf yang tidak terdapat di dalam mushaf yang telah disepakati bahawa ia bukan daripada al-Quran dan ia melakukan perkara-perkara tersebut dengan sengaja maka ia dihukumkan sebagai seorang yang kafir. Kerana itulah Imam Malik berpendapat bahawa orang yang mencaci ‘Aaisyah r.a. melakukan kecurangan hendaklah dibunuh kerana ia telah menyalahi al-Quran dan sesiapa yang menyalahi al-Quran bermakna ia telah mendustakan apa yang terkandung di dalamnya. Ibnu al-Qasim berkata: “Sesiapa yang mengatakan Allah taala tidak bercakap dengan Nabi Musa[ii] hendaklah dibunuh”.[iii]

Ibnu Qudamah al-Maqdisi:

ولا خلاف بين المسلمين في أن من جحد من القرآن سورة أو آية أو كلمة أو حرفا متفقا عليه أنه كافر

Tiada khilaf di kalangan orang-orang Islam pendapat tentang kufurnya orang yang mengingkari al-Quran sama ada satu surah atau satu ayat atau satu kalimah yang disepakati bahawa ia adalah al-Quran.[iv]

Ibnu Hazam:

القول بأن بين اللوحين تبديلا كفر صحيح وتكذيب لرسول الله صلى الله عليه و سلم

Pendapat yang mengatakan berlaku perubahan di antara dua kulit (di dalam al-Quran) adalah kekufuran yang nyata dan pendustaan terhadap Rasulullah s.a.w.[v]

Qadhi Abu Ya’la:

والقرآن ما غير ولا بدل ولا نقص منه ولا زيد فيه خلافاً للرافضة القائلين أن القرآن قد غير وبدل وخولف بين نظمه وترتيبه. إن القرآن جمع بمحضر من الصحابة رضي الله عنهم وأجمعوا عليه ولم ينكر منكر ولا رد أحد من الصحابة ذلك ولا طعن فيه ولو كان مغيراً مبدلاً لوجب أن ينقل عن أحد من الصحابة أنه طعن فيه ، لأن مثل هذا لايجوز أن ينكتم في مستقر العادة . ولانه لو كان مغيراً ومبدلاً لوجب على علي رضي الله عنه أن يبينه ويصلحه ويبين للناس بياناً عاماً أنه أصلح ما كان مغيراً فلما لم يفعل ذلك بل كان يقرأه ويستعمله دل على أنه غير مبدل ولا مغير

Al-Quran tidak diubah, tidak ditukar ganti, tidak berlaku pengurangan daripadanya dan tidak berlaku penambahan di dalamnya berlainan dengan golongan Rafidhah (Syi’ah) yang mengatakan bahawa al-Quran telah diubah, ditukar ganti dan disusun berlainan dengan susunan dan tertibnya yang asal. Sesungguhnya al-Quran telah dihimpunkan di hadapan sahabat-sahabat r.a. dan mereka sepakat di atas pengumpulan tersebut serta tiada seorangpun dari kalangan sahabat yang mengingkari dan menolak persepakatan tersebut. Kalaulah berlaku sebarang pengubahan dan tokok tambah (di dalam pengumpulan al-Quran) pasti akan terdapat nukilan daripada mana-mana sahabat bahawa ia menolak pengumpulan tersebut kerana perbuatan sedemikian tidak harus didiamkan. Dan berlaku sebarang pengubahan dan tokok tambah maka wajiblah ke atas Ali r.a. untuk menjelaskan dan memperbaikinya serta menerangkan secara umum kepada orang ramai bahawa ia telah memperbaiki mana-mana yang telah diubah. Bilamana dia tidak melakukan demikian bahkan ia membaca serta mengamalkannya maka ia menunjukkan bahawa tiada sebarang pengubahan dan tokok tambah (pada al-Quran).[vi]

Empat contoh yang dikemukakan ini sudahpun memadai untuk dijadikan bukti pegangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Jika dikemukakan kesemuanya nescaya tulisan ini tidak lagi menjadi satu artikel yang ringkas. Namun begitu untuk meneliti pandangan-pandangan yang sama daripada ulama-ulama Ahlus Sunnah bolehlah menambah pengetahuan dengan membaca kitab-kitab seperti al-Farq Baina al-Firaq, al-Mu’tamad fi Usul ad-Din, as-Saarim al-Maslul, Maqalaat al-Islamiyyin dan kitab-kitab lain sama ada kitab tafsir, usuluddin, ‘ulum al-Quran, syarah–syarah hadith dan kitab-kitab usul yang lain.

Pandangan Syi’ah Imamiyyah Ithna ‘Asyaa’irah terhadap al-Quran.

Golongan Syi’ah terutamanya ulama-ulama yang menjadi paksi kepada agama mereka beri’tiqad bahawa al-Quran yang dihimpunkan oleh sahabat-sahabat r.a. dan berada di tangan umat Islam sekarang telah berlaku penyelewengan dan tokok tambah padanya. Di bawah ini akan dikemukakan sebahagian daripada mereka.

Ali bin Ibrahim al-Qummi pengarang kitab tafsir tertua di sisi Syi'ah menyebutkan di dalam mukaddimahnya:

فالقرآن منه ناسخ، ومنه منسوخ، ومنه محكم، ومنه متشابه، ومنه عام، ومنه خاص، ومنه تقديم، ومنه تأخير، ومنه منقطع، ومنه معطوف، ومنه حرف مكان حرف، ومنه على خلاف ما انزل الله

Bermaksud: Al-Quran di antara ayatnya ada yang memansukhkan, ada yang dimansukhkan, ada yang muhkam dan ada yang mutasyabih, ada yang umum dan ada yang khusus, ada yang terdahulu dan ada yang terkemudian, ada yang terputus dan ada yang bersambung, ada yang diletakkan satu huruf di tempat satu huruf yang lain dan di antaranya ada yang berlainan dari apa yang diturunkan oleh Allah Taala.[vii]

Pentahqiq kepada kitab tafsir tersebut menjelaskan maksud kata-kata beliau "Ada yang berlainan dari apa yang diturunkan oleh Allah Taala" dengan katanya:

مراده رحمه الله منه الآيات التي حذفت منها الفاظ على الظاهر كالآيات التي نزلت في امير المؤمنين عليه السلام مثل قوله تعالى ياايها الرسول بلغ ما انزل اليك من ربك (في علي عليه السلام)

Maksud Imam al-Qummi adalah antaranya ayat-ayat yang dibuang daripadanya lafaz-lafaz secara zahir (penyelewengan pada lafaz al-Quran itu sendiri bukan maknanya) seperti ayat-ayat yang turun berkenaan Amirul Mukminin Ali a.s. seperti firman Allah Taala:

" ياايها الرسول بلغ ما انزل اليك من ربك (في علي عليه السلام)".

‘Allamah Husain bin Muhammad Taqiy an-Nuuri at-Thabarsi menukilkan kata-kata Sayyid Ni'matullah al-Jazaairi di dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu'maniyyah yang berbunyi:

أن الأصحاب قد أطبقوا على صحة الأخبار المستفيضة بل المتواترة الدالة بصريحها على وقوع التحريف في القرآن

Bermaksud: "Sesungguhnya tokoh-tokoh Syi’ah telah sepakat tentang sahihnya hadits-hadits yang sampai ke peringkat mutawaatir yang menunjukkan dengan jelas tentang berlakunya penyelewengan terhadap al-Quran”.[viii]

Dan ramai lagi ulamak Syi'ah yang menerima bahawa telah berlakunya tahrif di dalam al-Quran seperti Syeikh Mufid di dalam Awailul Maqaalat hal 13, Al-Kasyani di dalam mukaddimah Tafsir As-Shafi, Abul Hasan Al-Amili di dalam mukaddimah Tafsir Mir'atul Anwar dan lain-lain lagi.

Pegangan ulama-ulama Syi’ah tersebut adalah berdasarkan kepada lebih daripada dua ribu riwayat-riwayat sahih daripada imam-imam maksum di sisi mereka[ix] yang dengan jelas menunjukkan berlakunya tahrif di dalam al-Quran. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah:



[i] Al-Quran Surah al-Hijr ayat 9

[ii] Allah taala telah menjelaskan di dalam surah an-Nisa’ ayat 164 bahawa Dia benar-benar bercakap dengan Nabi Musa a.s.

[iii] Asy-Syifa Bi Ta’rifi Huquq Al-Mustafa jil. 2 hal. 304.

[iv] Lam’ah al-I’tiqad Bab Al-Quran Adalah Kalam Allah jil. 1 hal. 17

[v] Al-Fasl Fi Al-Milal Wa An-Nihal jil. 4 hal. 139.

[vi] Al-Mu’tamad Fi Usul Ad-Din hal. 258

[vii] Tafsir Al-Qummi, Mukaddimah juz 1 hal. 6

[viii] Fashlul Khitab Fi Ithbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab hal. 31

[ix] Riwayat-riwayat tersebut dihimpunkan oleh Allamah Husain bin Muhammad Taqiy an-Nuuri at-Thabarsi di dalam kitabnya Fashlul Khitab Fi Ithbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab.