Prof. Khoo Kay Kim said...

"The university today does not teach people how to think. The students come to university to make money. I always said to my students if you want to be rich don't come to university. The rich Chinese are mostly uneducated. To be rich you are not obliged to be highly educated. You can just pick one spot in KL and start selling Nasi Lemak and trust me your earning will be higher than university's Professor. People come to university in order to be a complete human being, not about making money. When I correct SPM history papers most of the time I will be correcting my own answer schemes. Our education system does not produce human but robots."- Prof Khoo Kay Kim

Sabtu, Oktober 30, 2010

Antara Kemenangan Aqidah dan Kekalahan Sikap Mengekor




Risalah dari Prof. DR. Mohammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 08-10-2010

Segala puji bagi Allah, dan Salawat dan salam atas Rasulullah, saw, Nabi yang ummi dan Al-Amin, dan orang yang mengikutinya dan berjalan di jalan petunjuknya hingga hari kiamat, selanjutnya…

Telah berlalu 37 tahun, hadir kepada kita peringatan kemenangan 6 oktober bertepatan dengan 10 Ramadhan, melekat dalam ingatan setiap warga Mesir, Arab dan Muslim bahkan setiap Insan, akan gambaran sebuah pengorbanan, membaur di dalamnya kemenangan dengan karakteristiknya, bercampur di dalamnya darah sang mujahid dengan aqidahnya dan haknya untuk hidup di negerinya sendiri, lalu naik dalam lingkup jiwa-jiwa yang beriman dengan seruan yang fenomenal: “Allahu Akbar” ..

Yang mampu membuat perhatian siapa saja yang ada disekelilingnya, menolak akan kehinaan dihadapan tentara paling buruk dan jahat di dunia, yang berada dalam kesatuan geng kejahatan di penjuru dunia

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (Al-Maidah:82)

“Allahu Akbar” .. Seruan yang menyatakan bahwa umat Islam mampu menaklukkan kejahatan tirani, dengan syarat menata kembali aqidah perang dihadapan Allah; sehingga dapat menghilangkan setiap keputus asaan atau menyebarnya jiwa kalah

وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (An-Nisa:104)

“Allahu Akbar” ..

Dengan penuh keyakinan bahwa senjata tidak akan mampu mewujudkan kemenangan selama pasukan perlawanan beriman dengan kebenaran orientasi dan hakikat loyalitas, keseimbangan perkara dan pintu-pintu sejarah terbuka bagi salafussalih, sehingga mereka mampu menaklukkan negeri-negeri di pelosok dunia, Allah memberikan kejayaan kepada mereka, padahal jumlah mereka tidak banyak dan perbekalan amunisi mereka tidak memadai.. namun mereka adalah orang-orang yang beriman dan para mujahid (pejuang).. meskipun mereka adalah manusia yang pasti merasakan apa yang dirasakan oleh manusia lainnya..

وَإِذْ زَاغَتِ الأبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا

“Dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka”. (Al-Ahzab:10)

Namun janji Allah adalah benar

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا . وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا . وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا .

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang Keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh Keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. dan adalah Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang ahli kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu”. (Al-Ahzab:25-27)

“Allahu Akbar” .. Menjadikan harapan rakyat Mesir untuk mengembalikan kejayaan yang lalu “pada saat hari itu penuh dengan teriakan ” Allahu Akbar ” sebagai syiar kehidupan, menelusuk pendengaran manusia saat itu, dan mulut saat terus aktif menyenandungkan Al-Quran, dan dengan seruan Allah Akbar bersinar cahaya hidayah di setiap sudut dan tempat; menyebar cahaya hidup di seluruh jagad alam, menebar kedamaian dunia, dan manusia merasakan manisnya kebahagiaan bersama pemerintahan yang berkeadilan, ketentraman rakyat, berserah diri pada hidayah yang memberikan keselamatan

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“ (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (Ibrahim:1)

Kekalahan yang nyata

Setelah tiga puluh tujuh tahun kemenangan, muncul pertanyaan: Apa yang tersisa dari kemenangan Oktober?!

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus terus terang memberikan kenyataan di semua tingkatan (Keamanan – Politik – Ekonomi – Sosial – kedaulatan) dan setelah itu baru kita menilai apa yang tersisa dari kemenangan, yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan membebaskan tanah air dan kehendak, mewujudkan keadilan dan kedaulatan, menolak segala bentuk normalisasi (perdamaian) dengan musuh dan antek-anteknya yang dengan rela membentangkan tangan kepada musuh sehingga tangan mereka berlumuran darah anak bangsa, termasuk anggota kami yang tidak bersalah dari warga Bahrul Baqar, korban kekejaman di Sabra dan Shatila, Deir Yassin, Bahrul Baqar, Qana, Lebanon Selatan dan Gaza.

Adalah hak Mesir dan warga Mesir terhadap para penguasa di dalamnya menuntut agar darah para syuhada Oktober tidak pergi sia-sia, jangan sampai terjadi pengkhianatan terhadap pengorbanan mereka terhadap negeri dan keluarganya, dan selanjutnya:

- Adalah hak para syuhada Oktober mendapatkan kedaulatan mereka di atas tanah yang telah mengalirkan darah dan jalan mereka secara penuh dan lengkap.

- Adalah hak para syuhada Oktober untuk diakui ruh-ruh mereka dengan memuliakan kehidupan keluarga dan keturunan mereka, tanpa melakukan tindak kerusakan dan kejahatan yang dapat menghisap harta dan kekayaan mereka atau melakukan pengebirian dengan merampas kebebasan yang telah diamanahkan oleh darah para syuhada mereka.

- Adalah hak para syuhada Oktober mendapatkan perlindungan harga diri mereka, tetap dimuliakan setinggi-tingginya tanpa menundukkan bendera pembangkangan ditengah komunitas mereka atau menjadi terganggu dan menyerah sebagai alternatif terhadap perlawanan dan penebusan.

Bahwa Ikhwanul Muslim bersatu dengan Mesir, dunia Islam dan Arab dalam mengenang peringantan kemenangan enam Oktober dengan menegaskan beberapa hal berikut:

Pertama:

Tidak adanya Nasionalisasi kemenangan

Untuk mengubah kemenangan rakyat sekedar peringatan dengan cara melakukan perayaan-perayaan, pidato yang memukau, dan merubah perayaan dengan nilai-nilai keimanan dan aqidah menjadi sekedar lantunan musik dan kata-kata manis belaka, mengganti gerakan menuju langgengnya kemenangan pada terabaikannya unsur-unsur kemenangan, pemurnian pada nasionalisasi kemenangan dan menghargai darah para syuhada dalam bentuk kezhaliman dan tirani, dan oleh karena itu dibutuhkan adanya langkah-langkah nyata dari pemerintah Mesir terhadap rakyatnya untuk menghidupkan kembali kehendak kemenangan yang bergelora pada Oktober dan telah bersekongkol setelahnya untuk memadamkan dan menghancurkan hingga keakar-akarnya; rakyat Mesir adalah pasukan terbaik yang ada di muka bumi seperti yang pernah disampaikan berita gembira ini; penjaga keamanan yang tandanya adalah Mesir..

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى يُوسُفَ آوَى إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

“Dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam Keadaan aman”. (Yusuf:99)

Dan kekayaan harta karun Mesir yang tidak akan habis, karena itu, apa yang kita khawatirkan untuk berhadapan dengan umat menuju kemenangan di semua bidang kecuali dengan bekerja keras di bawah pemimpin yang Adil, penguasa yang merakyat dan pemerintah yang bersih.

Kedua:

Tidak melupakan musuh

Bahwa kemenangan Oktober adalah melawan musuh yang jelas dan nyata: Zionis, dan didukung oleh Amerika, barangsiapa yang mengatakan bahwa perang enam oktober adalah perang terakhir adalah salah, karena doktrin dari anak-anak keturunan zionis memiliki target kepada setiap orang yang ada disekeliling mereka dengan bentuk yang telah diungkap oleh Allah akan niat mereka dalam Al-Qur’an

كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”. (Al-Maidah:64)

Dan selanjutnya bahwa sekedar berjalan mengekor, memberikan penyerahan diri seperti yang mereka namakan dengan perdamaian, yang merupakan –demi Tuhan- inti dari pengabaian terhadap darah para syuhada oktober, dengan bermuwalah (menjalin loyalitas) kepada musuh, dan dengan senjatanya yang menjadi alat untuk merampas, menduduki dan membunuh dengan kejam, dan apa yang terjadi pada perpecahan, cerai berai, fitnah, dan pengkotakan kecuali hasil alami dari berkoalisi dengan musuh..

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“ Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (Al-Anfal:73)

Hal yang sama berlaku untuk penafsiran kondisi negara yang rusak yang sedang dialami di beberapa negeri kita dalam bentuk politik, ekonomi dan sosial, karena itu merupakan pakaian penghinaan yang tidak mampu menutup aurat kecuali sebagai alternatif secara alami terhadap mulianya kemenangan yang kita abaikan di dalamnya setelah digapai melalui teriakan “Allahu Akbar” ..

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“ (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (An-Nisa:139)

Ketiga:

Perang adalah doktrin mereka

Bukankah Amerika adalah Negara yang paling banyak jumlah perangnya hingga mencapai 235 perang eksternal, dilancarkan atas Negara-negara yang ada di seluruh dunia sejak deklarasi kemerdekaannya, di samping itu terjadi perang internal di berbagai Negara bagian dari Amerika Serikat itu sendiri, dan memiliki berbagai sebab dan pembenaran untuk melakukan perang guna mencapai tujuan dan kepentingan yang selalu diperbaharui?

Sementara itu Amerika juga telah melegitimasi pendudukannya atas Irak dan sebelumnya Afghanistan dengan dalih memerangi terorisme; dan sebelumnya mereka juga menaikkan bendera untuk berperang terhadap “komunisme” untuk melawan di bawahnya revolusi liberal di Dunia ketiga, untuk menggulingkan pemerintah Mossadeq di Iran pada tahun 1953 oleh Central Intelligence Agency (CIA), dan campur tangan pasukan AS pada tahun 1958 atas Lebanon, dan menyulut api perang antara dua bagian dari Korea pada 1950, bahkan parlemen Amerika menerima proposal untuk menjatuhkan bom atom di Korea Utara secara beruntun, dan akhirnya intervensi langsung Amerika dalam perang Korea, intervensi langsung Amerika menjadi kesempatan untuk menghancurkan perusahaan industri, kota dan desa-desa di Korea, dan menewaskan ratusan ribu warga. Dan ini juga yang terjadi di Vietnam, Nikaragua, Somalia dan negara-negara lain di belahan dunia.

Negara Amerika adalah negara yang berideologi negara perang dan piaraannya adalah zionis; yang tidaklah mereka melakukan kejahatan kecuali menguasai kantong-kantong kekayaan Negara secara penuh .. kejahatan yang dikutuk oleh dunia namun didiamkan oleh lidah-lidah pemerintah di dalamnya, rekayasa seluruh Lembaga yang ada di PBB dengan menutupi pencurian terhadap Palestina, membisu atas hilangnya warisan kemanusiaan berupa penggalian terowongan di bawah Masjid Aqsha dan yahudisasi Al-Quds dan rangkaian kejahatan lainnya yang tidak berujung; pembunuhan, penghancuran, penjarahan, penyiksaan dan pemenjaraan rakyat Palestina, namun, sekalipun rangkaian kejahatan yang dilakukan oleh zionis secara sistemik dan secara terus menerus dunia masih saja membicarakan tentang perdamaiana dan eksistensi zionis di dunia!

Keempat:

Medan perang kian meluas

Perang belumlah berakhir, namun medannya tambah meluas dan misinya telah melebar lebih dari sekedar batas territorial; menelan bangsa, negeri dan peradaban, mengecat wajah dunia; Afghanistan jatuh pada cengkeraman pendudukan, kemudian diikuti oleh pendudukan Irak dalam bentuk yang keji yang diketahui oleh dunia disepanjang sejarahnya.

Sanksi-sanksi lain akan segera jatuh pada Suriah dan Iran, sementara target fitnahpun sedang diarahkan ke Somalia, Sudan, Yaman, Pakistan, Lebanon, dan melempar ketubuh umat yang satu dalam bentuk perpecahan agama, mazhab, sektarian dan etnis, dan merubah negara yang memiliki satu bahasa dan satu agama menjadi berpecah belah dan bermusuhan; saling melempar kritik dan fitnah, dan berjuang menjaga perbatasan dengan alasan pendudukan; sehingga memberikan pengetahuan kepada kita bahwa senjata adalah solusi di antara kita setelah sebelumnya memiliki motto “saling berbelas kasihan di antara mereka.”

Bahkan ideologipun menjadi target nilai-nilai globalisasi dan seni-seninya; untuk mendominasi sisi kehidupan kita, terbiasa dengan budaya asing di tengah kita, kreativitas yang mengalahkan naluri, dan membangun karakter yang terdistorsi tidak percaya akan nilai-nilai (akhlak) dan tidak berusaha membela ideology (Islam).

Mereka adalah musuh ..

وَإِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لا يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلا وَلا ذِمَّةً

“Jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian.

Berbicara tentang perdamaian dan hak asasi manusia

يُرْضُونَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَى قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ

“Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang Fasik (tidak menepati perjanjian)”. (At-Taubah:8)

Mereka adalah musuh ..

Mempersiapkan rencana dan bergerak membalik realita yang benar menjadi batil dan yang kongkrit menjadi rabun bak fatamorgana dan menamakan kejahatan dan agresi sebagai perang suci..

إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ .لا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلا وَلا ذِمَّةً وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ

“Sesungguhnya Amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) Kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. dan mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas”. (At-Taubah:10)

Akhirnya ..

Kita mengenang kemenangan Oktober, dan kita menegaskan bahwa faktor-faktor kemenangan dan kekuatan dalam tubuh umat kita adalah telah lenyap, potensi dan energinya telah cacat, anggota badannya terikat, dan pikiran jernihnya telah lenyap, aturan yang tidak adil dan hukum darurat serta pemerintah yang rusak, keinginan yang terampas, karena itu para penguasa hendaknya memahami tabiat dari suatu fase dan hakikat tanggung jawab yang diamanahkan dipundak mereka berdasarkan apa yang diinginkan oleh rakyat mereka, dan itulah yang akan Allah berikan balasan atasnya menanyakan tanggung jawab atas kepemimpinan mereka.

Kepada seluruh ikhwanul Muslimin…

Jadikanlah kemenangan oktober sebagai titik harapan kalian terhadap amanah yang kalian emban terhadap setiap jiwa manusia yang kehausan; cita-cita menjadi target, kekalahan yang nyata telah melupakan manusia akan kemampuan mereka untuk menang.

Jadikanlah syiar kalian:

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf:87)

Dan jadikanlah dari sikap positif –sekalipun hanya menghilangkan duri dari jalan- sebagai contoh nyata akan kemampuan untuk melakukan perbaikan dan perubahan yang bersandarkan pada perbaikan jiwa

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. “ (Ar-Ra’ad:11)

Dan kembalikanlah nilai-nilai kemenangannya, dan para syuhada akan kemuliannya; dengan mengekspos dan menjelaskan setiap usaha dalam rangka menjual potensi umat di pasar-pasar murah, membuka wajah musuh yang sebenarnya dan konspirasi mereka, dengan kayakinan penuh tanpa ada keraguan bahwa janji Allah adalah benar

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. (Al-Qashash:5)

Allah berada di balik maksud ini semua, dan Dialah yang memberi jalan lurus

Kelab malam melalui ETP merosakkan negara

" src="http://siswaislah.org/wp-content/uploads/2010/10/ud.jpg" alt="" height="119" width="121">

Usaha kerajaan Malaysia melancarkan Program Transformasi Ekonomi (ETP) sebagai strategi meningkatkan pendapatkan negara adalah suatu usaha yang amat progresif.


Disamping itu, pertambahan peluang pekerjaan adalah antara kesan baik yang bakal dinikmati oleh rakyat apabila projek ini menjanjikan 3.3 juta pekerjaan baru menjelang tahun 2020.


Namun begitu, Kelab Rakan Siswa Islah Malaysia (KARISMA) melahirkan rasa bimbang terhadap usaha transformasi ekonomi melalui industri pelancongan. EPP Ke-8 dalam Aktiviti Ekonomi Utama Nasional (NKEA) Pelancongan menyasarkan penubuhan enam kelab malam baru yang bakal menampung 900 pengunjung pada hujung minggu menjelang awal 2012.


Dua lagi akan beroperasi pada 2013 dan 2014. Menjelang tahun 2014, disasarkan sekurang-kurangnya 10 kelab malam akan beroperasi di zon hiburan baru hasil daripada projek ini.


Meskipun RM0.7 billion pendapatan negara kasar (GNI) akan diperoleh serta 5,600 peluang pekerjaan akan ditawarkan menjelang 2020, ia dilihat suatu yang bertentangan dengan cita-cita Wawasan 2020 yang ingin menjadikan Malaysia maju dengan gaya dan acuan tersendiri.


Sebagai sebuah negara Islam dan majoriti rakyat beragama Islam, usaha menambahkan lagi pusat-pusat hiburan ini tidak dilihat selari dengan amalan dan nilai budaya negara ini.


KARISMA menggesa agar kerajaan melihat dengan teliti kesan sosial yang akan berlaku apabila pusat-pusat hiburan sebegini ditambah. Dari sudut ekonomi ia mungkin menguntungkan negara, tetapi dari sudut sosial, tiada yang dapat menafikan bahawa kebejatan sosial juga pasti bertambah.



Suasana hiburan melampau hari ini dan kesannya pada masyarakat seharusnya sudah cukup membimbangkan kita semua apabila kes rempit, rogol, dadah, ragut, samun, perkosa dan lain-lain tidak menunjukkan penurunan.


Amat menghairankan apabila pemimpin negara hanya memandang proses transformasi ini dari sudut pendapatan negara sahaja walhal menutup sebelah mata terhadap kesan sampingan yang bakal terjadi. Alasan menarik pelancong-pelancong asing melalui pembinaan kelab malam adalah suatu alasan yang tidak kukuh serta bakal merosakkan negara.


KARISMA mendesak agar kerajaan membuktikan sumbangan-sumbangan langsung kepada pembangunan negara yang diperolehi daripada pembukaan kelab-kelab malam selain daripada sudut ekonomi dan peluang pekerjaan.


Pelbagai industri yang bertentangan dengan nilai moral dan agama juga mendapat keuntungan hasil pembukaan zon hiburan dan kelab malam ini. Antaranya industri arak dan pelacuran sehingga akhirnya membawa kesan jangka panjang yang lebih parah seperti perzinaan, pembuangan bayi, penggunaan dadah serta kerosakan akhlak lain.


Selama ini kerajaan berusaha bersungguh-sungguh membendung budaya-budaya negatif ini, namun begitu ruang yang disediakan cukup luas untuk masalah ini berkembang. Siapakah yang dapat menjamin bahawa pembukaan zon hiburan baru dan pertambahan kelab malam ini akan menjadikan rakyat Malaysia sebuah masyarakat lebih berakhlak mulia?


Adalah lebih baik sekiranya wang ringgit untuk zon hiburan dan kelab malam ini dilaburkan pada ruang yang lebih sihat seperti memajukan lokasi-lokasi yang melambangkan budaya negara Malaysia bersesuaian dengan tuntutan agama.


Nilai positif dan berakhlak harus diterapkan dalam memajukan sektor pelancongan negara Malaysia sesuai dengan budaya timur yang telah sekian lama diamalkan. Pendekatan holistik dan bersepadu juga harus dilaksanakan oleh kerajaan dalam membina sebuah negara yang maju baik aspek material mahupun moral masyarakat.


Seharusnya pemimpin negara mengaplikasian ayat Al-Quraan dalam Surah Saba’ ayat ke-15 yang menyebut “Negera yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun”.


Kita mahukan negara yang baik di sisi Allah yang akhirnya memberikan keampunan buat rakyatnya. Hanya dengan keredhaan dari Tuhan sahaja akan menjadikan negara ini sentiasa sejahtera dan makmur.

Ditulis oleh Abdullah Omar Muhamad Fuad (Presiden KARISMA Nasional 2010)

Dakwah merupakan Fitrah Manusia

Dakwah merupakan Fitrah Manusia

oleh Pertubuhan IKRAM Malaysia

http://zadud-duat.blogspot.com/

Oleh Dr. Mohammad Mahmud Mansur

Sesungguhnya dakwah kepada Allah dan Islam bukanlah suatu perkara yang sukar atau cita-cita yang berat bagi muslim dan muslimat kerana ia sebahagian daripada fitrah lelaki dan perempuan. Kedua-duanya telah difitrahkan dan dijadikan oleh Penciptanya mempunyai sifat saying kepada manusia di sekelilingnya dan baik pergaulan bersama mereka di mana ia membantu kehidupannya kemudian kehidupan semua orang yang bersamanya.

Justeru ketika da’i melihat mereka yang jauh daripada Allah dan agama Islam yang merupakan sumber utama kepada kebahagiaan di dunia kerana kedua-duanya menghalakan manusia kepada kebaikan, keamanan dan ketenangan, memelihara daripada segala keburukan, keresahan dan kesusahan, maka dengan fitrah semula jadinya ia berusaha dengan baik dan segala kasih saying , keperihatinan dan kesungguhan untuk mengembalikan mereka kepada keduanya. Ini kerana ia mengasihi dirinya dan diri mereka, menyukai kebahagian dirinya dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat..Demikianlah hakikat fitrah manusia kepada dakwah dan nilai kemanusiaan.

Seorang da’i mencintai dirinya dan tidak mahu bergaul dengan orang dengan pergaulan yang buruk dengan alasan mereka jauh daripada Allah dan ajaranNya. Sungguhpun mereka melayan da’i dengan layanan buruk tetapi da’i tetap mengasihi mereka dan tidak mahu...melakukan penipuan, khianat, penting diri, kekejaman, kekerasan dan sebagainya dari sifat-sifat yang keji dalam pergaulan. Malahan da’I mengingin dirinya dan dir mereka seluruhnya dekat dengan Allah dan segala ajaranNya, mengingini dirinya dan mereka semua saling tolong-menolong, berbincang dan maju seterusnya berbahagia di dunia dan akhirat.

Banyak bukti daripada sirah tentang fitrah dakwah dan paling terkenal ialah;

Riwayat Ibn Hisham; Sebaik sahaja pengislaman Abu Bakar r.a, beliau telah berdakwah kepada beberapa orang yang dipercayai, disayangi dan digauli yang ia kehendaki kebaikan dan kebahagiaan. Lalu beberapa orang sahabat yang dijamin masuk syurga telah memeluk Islam sedangkan ketika itu Abu Bakar hanya memiliki pengetahuan yang terhad tentang islam..akan tetapi kerana fitrah kasih sayang untuknya, khaliq dan dakwah kepada saudara-saudaranya yang dekat dengannya seperti Uthman bun Affan, Abdul Rahman bin Auf, Saad bin Ubadah dan Talhah bin Ubaidillah.

Begitu juga sebaik sahaja pengislaman ahli sihir Fir’aun yang telah menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah telah bertukar dengan serta-merta hanya semata-mata pemikirannya telah bebas daripada penguasaan pemikiran yang songsang tentang Fir’aun yang mendakwa sebagai tuhan, dengan menyeru kaumnya bahkan pembesar-pembesar mereka yang kejam dengan sebaik-baik teknik berdakwah sekalipun mereka baru sahaja memeluk Islam serta tidak tahu apa-apa tentang agama dan teknik berdakwah!

Ahli-ahli sihir berkata kepada Fir’aun:

“Mereka (ahli sihir) berkata: “Kami tidak akan memilih tunduk kepadamu (Firaun) atas bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami, dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik pahalanya dan lebih kekal azabnya”. (Taha: 72-73)

Malah mereka sedia berkorban apa sahaja jika diperlukan. Ketika Fir’aun mengancam mereka dengan siksaan sebaliknya mereka membalasnya dengan mengajak kaumnya kepada kebaikan dan kebahagian:

“Mereka berkata: “Tidak ada yang kami takutkan, kerana kami akan kembali kepad aTuhan kami. Sesungguhnya kami sangat menginginkan sekiranya Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, kerana menjadi orang yang pertama-tama beriman” (As-Syuara: 50-51)

Sekiranya mereka hidup selepas ini kehidupan mereka seluruhnya penuh kemuliaan, ketenangan dan kebahagiaan dan sekiranya mereka mati selepas ini mereka mengecapi syahid yang ditempatkan disyurga tertinggi. Justeru kedua-dua pilihan mempunyai kebaikan sedangkan mereka akan memperolehi salah satu antara dua kebaikan.

Kefahaman tentang apa yang disebutkan di atas akan membantu mempercepatkan penyebaran Islam dan akhlak dengan Izin Allah. Ini kerana setiap muslim akan merasa mudah melaksanakan dakwah kepada Allah mengikut kemampuan masing-masing, malah akan memperkemaskan dakwahnya melalui sedikit ilmu dan latihan dan akan melaksanakannya dalam bentuk yang sesuai dengan suasana persekitarannya, keadaan dirinya dan orang disekelilingnya..bahkan pengetahuan ini akan menjadikannya percaya dan yakin bahawa dia mampu melaksanakan dakwahnya dan merasai dakwah ini mudah seiringan dengan perjalanan hidupnya, dan sesuai dengan bidang dan kebolehannya sebagaimana yang difahami dari maksud hadith nabi yang diketahui ramai.

“Agama ini adalah nasihat”. Kami bertanya; Bagi siapa?. Jawab nabi: “Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan seluruh muslimin”. (Riwayat Muslim dan lainnya)

Iaitu setiap system dan peraturan Islam terbina di atas nasihat yang jujur dan peringatan yang baik dari semua peringkat dan kedudukan kerana tanpa keduanya pastilah di sana agama tidak akan tertegak.

Justeru, apabila berdakwah atau mengajak orang lain kepada kebaikan merupakan fitrah semulajadi manusia, maka ini bermakna penerimaan orang kepada dakwah juga adalah fitrah semulajadi. Tentulah ada sifat yang tertanam dan penciptaan yang telah ditentukan oleh Allah di dalam jiwa mad’u untuk mencari dan mendapatkan kebaikan hingga kembali kepada yang asal kerana kecintaan kepada kebaikan adalah asal penciptaannya. Kejahatan dan keburukan yang datang selepasnya bukan yang asal dan tertolak kerana ia menafikan peranan akal dan menerima dorongan syaitan hingga ia merasa tenang dan bahagia dengan asal penciptaannya.

فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“..(Sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(Ar-Rum: 30)

Dengan itu, seorang muslim akan merasa seronok melaksanakan dakwah kepada Allah dan Islam. Dia akan melihat dakwah memberi kebahagian kepada dirinya dan orang lain kerana dia membetulkan mereka kepada setiap kebaikan dan kebahagian. Dia sekali-kali tidak merasa walaupun sehari bahawa dakwah ini membebankan dan berat untuk dipikul, kerana dakwah adalah menepati fitrah semulajadi dirinya…dan penerimaan orang kepada dakwah juga adalah fitrah semulajadi setiap manusia.

Oleh itu, lakukanlah dakwah dengan penuh ketenangan dan kepercayaan wahai muslim..lakukanlah dengan kecintaan, kesungguhan, keelokkan dan rasa mudah, pasti anda akan dapati dakwah ini sentiasa seiringan dengan perjalanan hidup anda dalam setiap perkataan dan perbuatan, dan pastilah para mad’u akan menerima dengan terbuka dakwah anda, kerana mereka menanti dakwah anda untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Ini disebabkan semuanya adalah bertepatan dengan fitrah yang tertanam dan terdapat di dalam diri manusia..Justeru,lakukanlah dan laksanakanlah dakwah tanpa rasa terbeban wahai muslim.

Terjemahan daripada http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=65690&SecID=363



Jumaat, Oktober 29, 2010

Sejarah Adalah sunnatullah


Sempena dengan cadangan kerajaan untuk menjadikan subjek sejarah sebagai subjek wajib lulus bagi Sijil Peperiksaan Malaysia (SPM) pada 2013 di samping subjek Bahasa Melayu, amat penting bagi kita untuk meletakkan subjek ini di tempat yang sebenarnya. Seperti sistem yang melingkungi kita sehari-hari, sejarah juga tidak terlepas daripada ancaman sekularisasi dan sejarah yang berlandaskan sudut pandangan penjajah , bukan anak watan.




Sejarah adalah Sunatullah

Pohon kehidupan

Apa makna sejarah? Terlebih dahulu kita lihat asal-usul perkataan sejarah. Ini akan memberi gambaran kepada pengertian dan kesan yang diharapkan dari mempelajari sejarah. Perkataan sejarah berasal dari Bahasa Arab iaitu ‘syajaratun’ atau pohon. Dari sini sejarah menggambarkan suatu konsep yang kompleks, sepadu, hidup dan berkesinambungan seperti sebuah pohon.


Sebagaimana sebuah pohon, akarnya terhunjam ke bumi untuk memastikan pohon yang disokongnya stabil dan mendapat khasiat serta bekalan air yang berterusan untuk kelangsungan hidup serta tumbesarannya.


Kemudian bahagian pohon yang zahir terdiri dari batang yang kuat dan pejal. Batang tadi bercambah menjadi beberapa dahan besar yang berpecah pula kepada beberapa dahan kecil. Dahan-dahan kecil ini pula bercambah menjadi ranting-ranting. Ranting-ranting inilah yang mengeluarkan daun, bunga dan buah.


Ranting-ranting itu beransur-ansur membesar menjadi dahan seiring dengan pokok yang semakin meninggi dan besar. Ia akan mengeluarkan ranting-ranting dan pucuk-pucuk yang baru buat menggantikan daun-daun yang kering dan gugur. Begitu juga ia akan mengeluarkan bunga yang kemudiannya berputik menjadi buah yang masak ranum.


Begitulah gambaran kehidupan manusia di atas muka bumi. Kehidupan manusia adalah ibarat pohon yang tumbuh berterusan. Seperti pohon, kewujudan seorang manusia adalah penerusan dari mata rantai kewujudan manusia yang tidak pernah putus dari Nabi Adam a.s. sehinggalah kepada manusia yang terakhir.


Ia adalah satu pewarisan yang berterusan ibarat pohon yang bermula dengan akar dan berakhir dengan pucuk dan putik yang tumbuh silih berganti. Di samping susur-galur manusia itu berkesinambungan ia juga bercambah menjadi beberapa banyak cabang. Semakin berusia pohon tersebut maka semakin banyaklah cabang yang dibentuknya. Setiap cabang menyokong rangkaian dahan, ranting dan pucuknya yang tersendiri.

Begitu jugalah manusia. Setiap seorang dari insan yang ada di atas muka bumi ini adalah produk atau kelahiran dari generasi sebelumnya dan ia sendiri menjadi punca kepada terbitnya generasi akan datang. Dalam perkataan lain dia adalah penyambung kepada generasi yang terdahulu dan generasi yang bakal diwarisinya.


Seperti sebuah pohon yang mempunyai pelbagai cabang, begitulah seorang insan mempunyai pertalian atau hubungan dengan insan yang lain meski tidak dari susur-galur keturunan yang sama. Hakikatnya nenek moyang mereka dahulu bermula pada titik temu yang sama.


Inilah pengertian sejarah yang sebenar. Jika dilihat dari perspektif ini maka sejarah bukan semata-mata himpunan kisah-kisah silam tetapi lebih tepat lagi merumuskan haluan yang telah diambil dan membayangkan hala tuju sebuah bangsa yang bakal ditempa.


Sebuah bangsa atau tamadun tidak dapat lari dari mencari identitinya dalam sejarah mereka sendiri. Lantaran itu sesebuah bangsa atau tamaddun harus membina kekuatan di atas kekuatan yang sedia ada atau asas yang telah ditinggalkan oleh generasi terdahulu.


Amat silap jika ada yang berpendapat kita boleh membina kehebatan dengan meminjam dari tamadun lain atau budaya asing meskipun kita menganggap ianya lebih maju dari apa yang diwarisi dari nenek moyang sendiri. Ini termasuklah persoalan bahasa, pembinaan budaya ilmu dan budaya fikir.


Apa yang berlaku pada hari ini ialah setengah golongan yang terjajah mindanya samada oleh penjajahan tanah air di masa silam atau penjajahan minda era perkampungan global tanpa sempadan, cuba membina kekuatan di atas kekuatan yang asing dengan jatidiri bangsa dan tamadunnya sendiri.


Kemudian al Quran juga menggunakan perumpamaan dan perbandingan di antara pohon yang baik ‘syajaratan kasyajaratan’ dan pohon yang rosak. Pohon yang baik menjulang tinggi ke langit dan akarnya terhunjam teguh ke bumi. Ini juga menunjukkan bahawa satu tamadun yang baik akan mewariskan generasi yang hebat.


Jika sesuatu bangsa itu punya kekuatan atau kelebihan tertentu maka tidak sedikit pengaruh sejarah dan warisan di dalam membentuk kelebihan-kelebihan tersebut. Sebaliknya sebuah generasi yang lemah juga adalah warisan dari generasi sebelumnya. Tamadun yang hebat akan mewariskan nilai-nilai kehebatan kepada generasi berikutnya.


Sebaliknya tamadun yang bankrap juga akan mewariskan nilai-nilai kebobrokan kepada generasi penerusnya. Oleh itu apabila sesuatu bangsa itu kelihatan hebat maka ia adalah produk kehebatan yang terbina oleh generasi-generasi pelopor.


Dan jika sesebuah bangsa itu terjerumus ke dalam budaya bankrap nilai seperti rasuah dan zalim ia adalah manifestasi dari pemupukan nilai-nilai bobrok yang dipelopori oleh generasi terdahulu. Dalam keadaan yang sedemikian dahan dan ranting yang rosak dari pohon itu mesti dicantas melalui satu proses perawatan yang dinamakan islah.


Generasi dan bangsa yang mewarisi nilai-nilai bankrap tersebut perlu melaksanakan satu proses reformasi menyeluruh untuk membina semula kekuatan bangsa dan tidak sedikit contoh yang kita temui dalam sejarah. Ini bakal dikupas dalam bab yang lain.

Sejarah adalah Sains?


Ilmu sains dikaitkan dengan tiga proses ini; ujikaji, pemerhatian dan kesimpulan. Ilmu sains terbina dari fakta hasil ujikaji yang dilakukan berulang-kali. Hasil dari proses empirikal (ujikaji, pemerhatian dan kesimpulan) ini terbentuklah teori-teori sains. Teori sains tidak dipertikaikan dan dianggap benar dalam semua keadaan.


Contohnya teori mengenai graviti atau daya tarikan bumi. Ini terangkum dalam Newton’s first law (Undang-undang Newton yang pertama) iaitu setiap objek di bumi jatuh dengan kadar kecepatan 9.98 m22. Nilai inilah yang disebut sebagai ‘g’, berapapun berat objek tersebut. Newton menemukan undang-undang ini setelah melihat dan memikirkan tentang buah epal yang jatuh dari pokok ke tanah.


Sebenarnya apa yang diolah oleh Isaac Newton telah wujud sejak bumi ini dicipta. Inilah yang disebut oleh Allah SWT dalam al Quran sebagai sunatullah. Sunatullah ialah hukum-hukum yang mentadbir perjalanan alam ini. Hukum-hukum inilah yang menjamin alam ini berfungsi dengan teratur tanpa sebarang kacau bilau.


Dengan hukum sunatullah inilah cakerawala kita bahkan seluruh jagatraya yang terbentuk dari cakerawala/nebula yang tidak terhitung banyaknya berada dalam susunan yang harmonis. Setiap planet dan bintang bergerak pada garis paksinya masing-masing tanpa berlaku sebarang perlanggaran dan pertembungan.


Jika salah satu dari planet dan bintang yang bertaburan itu menyalahi mana-mana dari hukum sunatullah itu akan berlakulah kemusnahan jagatraya dan mungkin menandakan permulaan kepada peristiwa kiamat.


Itu dalam bentuk makro. Di dalam bentuk yang mikro dan lebih kecil kita dianjurkan oleh al Quran untuk merenung tentang kejadian alam sekeliling yang dapat dinikmati dengan mata kasar yang tidak kurang hebat dan menakjubkan.


‘Tidakkah kamu perhatikan bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi diratakan dan gunung-ganang ditegakkan’. ‘Dan pada penciptaanmu sendiri tidakkah kamu perhatikan’. Allah tidak segan menjadikan lalat sebagai perumpamaan.


Orang-orang kafir itu bertanya apakah tujuannya menjadikan lalat sebagai perumpamaan. Dengan perumpamaan itu Allah memberi petunjuk dan dengan perumpamaan itu Allah menyesatkan segolongan yang lain.


Ayat-ayat ini antara lain mengajak manusia untuk merenung kejadian-kejadian yang bersifat organik dan biologikal. Setiap unit hidupan yang berada di atas muka bumi ini samada tumbuhan, haiwan atau agen mikrobial (bakteria dan kulat) berfungsi melalui proses-proses biologikal yang sama. Lantaran itu saintis telah merumuskan tujuh proses yang wajib ada bagi setiap hidupan iaitu respirasi (bernafas), penghadaman makanan, perkumuhan, pembiakan, bertindak balas pada stimuli (ransangan) dan akhir sekali kematian.


Tidak ada satupun dari makhluk yang melata yang boleh mencabar hukum-hukum yang menjamin kelangsungan hidup mereka. Andai kata mereka punya kekuatan untuk melawan atau keluar dari garis hukum yang ditetapkan, mereka pasti akan menemui kemusnahan dan memilih untuk menamatkan riwayat hidupnya sendiri.


Justeru Allah berfirman ‘Carilah agama selain dari agama Allah sedang telah tunduk (islam) semua yang di langit dan di bumi samada suka atau terpaksa dan kepada Allah mereka dikembalikan’. Islam yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah tunduk kepada ketetapan Allah atau yang dinamakan sunatullah.


Perkara ini amat mudah untuk difahami oleh setiap insan dan dia tidak perlu belajar sains dan pelbagai teori sains seperti hukum Newton untuk memahami hakikatnya. Contoh yang paling mudah ialah manusia akan mati kalau dia cuba-cuba melawan fitrah kejadiannya.


Umpama seseorang itu memilih untuk tidak makan atau mengambil bahan yang tidak sesuai dengan sistem penghadamannya seperti kaca. Kematian adalah pasti baginya dan tidak perlu dibuktikan dengan percubaan sains. Ia adalah logik yang diterima hatta oleh orang yang tidak berpelajaran sekalipun.


Sunatullah juga boleh dilihat berlaku dalam proses lain yang tidak melibatkan unit biologikal atau kehidupan. Ketetapan hukum sunatullah juga berlaku kepada proses yang melibatkan nombor atau ilmu matematik.


Oleh kerana ketetapan hukum yang tidak berubah selamanya inilah yang memungkinkan ilmu matematik berkembang dan dibangunkan oleh pelbagai tamadun terutamanya tamadun Islam. Rahsia inilah yang memungkinkan cerdik pandai dan saintis muslim menemukan pelbagai teorem matematik seperti aljeba dan almuqabbala (persamaan kuadratik).



Seperti juga sunatullah yang mengikat kehidupan biologikal, begitu jugalah sunatullah mengikat hubungan di antara nombor (integer). Sebagaimana seseorang itu tidak perlu belajar ilmu Sains untuk menanggapi persoalan ini begitu jugalah seseorang itu tidak perlu menguasai rumus-rumus matematik yang rumit.


Cukup sekadar memahami asas pengiraan seperti tambah dan darab yang diperlukan dalam urusan kehidupan seharian. Sebagai contoh hasil tambah dua dengan dua jawapannya tidak pelbagai tetapi tetap empat. Jawapan ini merentas ruang dan waktu tanpa kecuali.


Maka apakah hubungan sains dan sejarah? Apakah sejarah juga merupakan satu manifestasi dari sunatullah? Kita boleh mendapat jawaban dari persoalan ini dari al Quran. Al Quran adalah ibrah atau peringatan dan salah satu dari pendekatan al Quran ialah dengan memaparkan kisah-kisah sejarah.


Apakah relevannya al Quran membentangkan kisah-kisah silam dari lipatan sejarah jika ia tidak mempunyai sebarang signifikan kepada manusia hari ini. Lantaran itu pada beberapa tempat Allah mengajak manusia dengan seruan seperti ini ‘berjalanlah di atas muka bumi dan perhatikan apakah kesudahan orang-orang yang zalim, yang membelakangkan perintah Allah’.


Lebih khusus lagi pada beberapa tempat Allah merakamkan peristiwa-peristiwa besar yang pernah menimpa umat yang terdahulu seperti firmanNya ‘Tidakkah kamu perhatikan bagaimana kami perbuat ke atas kaum Ad. Penduduk Iram yang membina rumah di bukit-bukit, yang tidak ada sepertinya di zaman itu’.


Di lain tempat Allah berfirman ‘Tidakkah kamu perhatikan apa yang telah diperbuat tuhanMu terhadap tentera bergajah?’ Soalan-soalan yang dilontarkan ini bertujuan untuk mengetuk pintu hati manusia dan mendorong mereka untuk berfikir.


Apakah yang telah dilakukan oleh umat yang terdahulu sehingga mereka ditimpakan azab yang begitu besar oleh Allah SWT. Jika ia sekadar rekod atau catatan sejarah yang tidak punya sebarang kaitan dengan masa ini dan akan datang apakah perlunya kesah-kesah ini diungkap oleh al Quran. Al Quran bukan buku sejarah tetapi petunjuk bagi manusia untuk sepanjang zaman.


Dalam perkataan lain kesah-kesah sejarah yang didedahkan oleh Allah SWT dalam al- Quran adalah petunjuk kepada peristiwa yang bakal berlaku di masa depan dan pada segenap zaman. Apa yang dipaparkan jua merupakan satu sunatullah atau hukum yang tidak berubah… dan sejarah adalah buktinya! Ia membawa satu isyarat jelas bahawa manusia tidak akan terlepas dari natijah perbuatan mereka.


Kezaliman lambat laun akan berakhir dengan kehancuran dan kemusnahan. Lambat atau segera bukan soal. Jika perhitungan dilewatkan itu hanya fitnah (cubaan) kepada mereka yang lalai.


Orang yang melakukan kezaliman tidak selamanya beruntung. Mereka mungkin mencapai kekuasaan dan kekayaan dikemuncak kezaliman mereka. Namun mereka hanya diberi tangguh sahaja. Apabila tiba saat perhitungan mereka akan jatuh ke lembah yang paling hina.


Tidakkah manusia menyedari fenomena ini yang terus berulang sehingga hari ini? Ini adalah kenyataan yang sedang berlaku dan akan terus berlaku. Seorang tiran (penguasa yang zalim) pada saat ia berada dipuncak kekuasaan dengan mudah menghantar musuh-musuh politiknya ke tali gantung.


Maha suci Allah, ketika tiran yang sama dlucutkan kekuasaannya dan dijatuhkan hukuman mati, dia dihantar ke tali gantung yang sama yang telah meragut ribuan nyawa musuh-musuhnya. Sebelumnya juga ada seorang tiran yang mewarisi dinasti terkuat dan terkaya di Asia. Kekayaan dan kekuasaannya dibangunkan di atas kezaliman dan rampokannya ke atas harta rakyat.


Akhirnya maharaja yang berkuasa ini mati dalam buangan. Bahkan kuasa besar yang melindunginya selama ini tidak sudi untuk menerima beliau. Matilah beliau dalam kehinaan dengan air mata kesyukuran rakyat yang ditindasnya selama ini.


Kesah-kesah yang dibawa oleh al Quran juga bertujuan untuk memberi keyakinan kepada pendukong-dukong kebenaran dan keadilan.


Meskipun mereka dizalimi, teraniaya dan ditindas namun pada penghujung cerita duka mereka, kemenangan tetap memihak kepada mereka. Ia menuntut pihak yang berjuang menegakkan kebenaran dan menentang kepalsuan dan kezaliman supaya tetap istiqamah dan teguh menghadapi pelbagai mehnah (cubaan) dan fitnah yan ditimpakan ke atas mereka.


Mudah-mudahan mereka terus meletakkan harapan yang tinggi terhadap pertolongan yang bakal datang. Inilah objektif sebenar kenapa Allah SWT meramkamkan perjuangan para Nabi dan golongan soleh di dalam al Quran. Kesah-kesah mereka ini seolah-olah membawa tema yang berulang-ulang iaitu pejuang kebenaran pasti akan meraih kemenangan meskipun mereka berhadapan dengan seluruh jentera pendukong-pendukong kepalsuan yang amat berkuasa.


Ia juga menjadi peringatan kepada golongan yang memilih untuk menentang kebenaran bahawa perbuatan mereka sia-sia. Meski mereka memiliki semua harta dan kekayaan, kuasa dan pengaruh serta berlaku zalim kepada manusia, namun kesenangan dan kekuasaan mereka hanya bersifat sementara.


Mereka sebenarnya tertipu kerana Allah SWT hanya memberi mereka penangguhan waktu ke atas kehancuran yang bakal mereka hadapi. Akhirnya apabila kehancuran itu datang mereka menjadi manusia yang paling kecewa dan berputus asa. Inilah yang menimpa Firaun dan semua pewaris-pewarisnya yang tertipu dengan kekuasaan yang dipinjamkian sementara oleh Allah SWT.


Kenapa Allah SWT menyebut beberapa kesah sejarah tanpa menyebut di mana dan bila peristiwa tersebut berlaku? Bila dan di mana sebenarnya tidak penting kerana al Quran bukan buku sejarah. Ia tidak pula menghalang manusia untuk membuat kajian dan menentukan di mana dan bilakah peristiwa-peristiwa yang dirujuk oleh al Quran itu terjadi.


Di antara peristiwa tersebut ialah mangsa-mangsa parit api yang dinyatakan dalam kesah ashabul ukhdud, kesah pemuda yang tertidur dalam gua, ‘ashabul kahfi’ dan kesah pemuda yang berlari-lari dari hujung kota untuk mengajak umatnya beriman kepada para rasul yang diutus kepada mereka dalam surah yaasin.


Apa yang hendak diketengahkan oleh al Quran ialah pengajaran-pengajaran untuk generasi manusia sepanjang zaman. Sungguh apa yang berlaku mempunyai pelajaran yang sangat besar kepada manusia yang mahu mengambil peringatan.


Namun sejarah selalunya berulang; petanda bahawa manusia sering melupakan sejarah sehingga ada kata-kata yang merakamkan kealpaan manusia ini ‘mereka yang melupakan sejarah akan mengulangi kesilapan orang terdahulu’’Those who fail to take from history are condemn to repeat the same error’.


Semua ini menunjukkan bahawa sejarah seperti sains adalah sunatullah atau hukum yang tidak berubah. Jika dalam sains, sunatullah mengatur hubungan di antara objek-objek alam tabi’i (fizikal dan biological), di dalam sejarah, sunatullah mengatur hubungan di antara perbuatan dan natijah.


Seperti dalam sains fizik hukum suatu tindakan akan menghasilkan tindak-balas (action – reaction) begitulah di dalam sejarah setiap perbuatan akan menatijahkan hasil yang tertentu. Setiap orang akan menuai hasil dari apa yang disemai. Jika benih padi yang disemai maka padilah yang akan dituai. Namun jangan sekali-kali mengharapkan hasil padi jika yang disemai ialah bibit lalang.


Oleh kerana garis-garis besar sejarah dikawal oleh hukum yang tidak berubah seperti sains, maka falsafah dan matlamat akhir dari pembelajaran sejarah seharusnya membawa natijah yang sama iaitu meyakini akan wujudnya kesegaraman peraturan di alam ini.


Ini juga membawa insan kepada meyakini satu kuasa yang tunggal yang mentadbir dan menyusun perjalanan alam dengan begitu harmonis. Bukan sahaja tidak ada percanggahan di antara pelbagai objek yang menyatu sebagai alam semesta, dari peringkat mikro sehingga ke peringkat makro, bahkan tidak ada percanggahan di antara proses sejarah dan masa depan.


Dalam perkataan lain, seseorang boleh melakar masa depan dengan berpandukan kepada petunjuk-petunjuk sejarah. Mereka tidak perlu membuat sebarang ujikaji atas pilihan yang bakal diambil.


Jika jalan yang bobrok yang dipilih seperti mengamalkan rasuah, berlaku zalim, menipu, memeras dan menindas maka jangan sekali mengimpikan kemakmuran, kelestarian dan keamanan. Jika wujudpun kemakmuran fizikal ia tetap membawa kehancuran kepada sendi-sendi masyarakat.


Akhirnya masyarakat yang sedemikian rupa akan dihinggapi dengan pelbagai wabak sosial dan gejala yang membawa keruntuhan akhlak, syaksiah, institusi keluarga dan masyarakat. Generasi akan datang akan melihat binaan-binaan fizikal yang diwarisi tidak lebih dari satu legasi yang melambangkan kemorosotan nilai dan akhlak seperti halnya piramid Mesir, Persepolis Persia dan Akropolis Yunani.


Atau lebih malang lagi apabila mereka mewarisi dan melonjakkan lagi nilai-nilai bobrok tersebut sehingga monument-monumen itu menjadi lambang nasional yang dibangga, diperaga dan dipuja-puja. Semakin jauhlah masyarakat terseret ke jalan yang membawa kepada kemusnahan nilai.


Dr Hafidzi Mohd Noor